Mandiri Tunas Finance siapkan pelunasan obligasi Rp313,51 miliar pada Juli 2026
Mandiri Tunas Finance menyiapkan dana untuk melunasi surat utang yang segera jatuh tempo sebagai bagian dari pengelolaan pendanaan perseroan. Pembayaran itu mencakup pokok obligasi Rp313,51 miliar dan bunga keempat Rp4,82 miliar untuk seri yang jatuh tempo pada 18 Juli 2026.
Sorotan
- Mandiri Tunas Finance akan melunasi Obligasi Berkelanjutan VII Tahap I 2025 Seri A senilai Rp313,51 miliar jatuh tempo pada 18 Juli 2026.
- Dana pelunasan pokok dan bunga keempat obligasi tersebut akan disalurkan ke PT Kustodian Sentral Efek Indonesia paling lambat pada 18 Juli 2026.
- Total penerbitan Obligasi Berkelanjutan VII Tahap I 2025 mencapai Rp775,27 miliar, termasuk Seri B Rp236 miliar berbunga 6,50% dan Seri C Rp225,76 miliar berbunga 6,70%.
Rencana pembayaran obligasi jatuh tempo
Keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia menyebutkan Mandiri Tunas Finance akan melunasi Obligasi Berkelanjutan VII Mandiri Tunas Finance Tahap I Tahun 2025 Seri A yang jatuh tempo pada 18 Juli 2026. Direktur MTF William Francis Indra menyampaikan perseroan telah menyiapkan dana untuk pembayaran pokok obligasi tersebut, termasuk bunga keempat.Dana pembayaran itu akan disalurkan kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia paling lambat pada 18 Juli 2026. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada Jumat, 19 Juni 2026.
Struktur penerbitan dan implikasi pendanaan
Obligasi yang jatuh tempo ini merupakan bagian dari Obligasi Berkelanjutan VII Mandiri Tunas Finance Tahap I Tahun 2025 dengan total nilai penerbitan Rp775,27 miliar. Selain Seri A, instrumen ini juga diterbitkan dalam Seri B senilai Rp236 miliar dengan tenor tiga tahun dan bunga 6,50% per tahun, serta Seri C senilai Rp225,76 miliar dengan tenor lima tahun dan bunga 6,70%.Kesiapan pelunasan ini menunjukkan perseroan menjaga kewajiban pendanaannya sesuai jadwal di pasar obligasi. Bagi sektor pembiayaan, kepastian pembayaran saat jatuh tempo menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap penerbitan surat utang perusahaan.
Catatan MSCI soal arus informasi (Information Flow) di pasar modal Indonesia menjadi sorotan dalam liputan kami sebelumnya, terutama terkait kekhawatiran atas transparansi kepemilikan saham dan indikasi perdagangan terkoordinasi. Kami juga mengulas langkah Bursa Efek Indonesia yang berencana meminta klarifikasi langsung mengenai kelengkapan dan konsistensi informasi emiten, termasuk ketersediaan dokumen dalam bahasa Inggris. Isu transparansi ini dinilai dapat memengaruhi kemudahan investor internasional mengakses data dan pada akhirnya berdampak pada kepercayaan terhadap pasar.
Berita LPS Terbaru
- Forex
- Crypto