Jakpreneur dinilai menopang pertumbuhan UMKM Jakarta, tetapi kenaikan kelas masih tersendat
Menjelang ulang tahun ke-499 Jakarta, UMKM tetap menjadi penopang ekonomi warga saat biaya operasional usaha terus meningkat. Program Jakarta Entrepreneur, atau Jakpreneur, dinilai memperluas akses legalitas, pelatihan, dan promosi, tetapi tantangan pemasaran, biaya produksi, serta daya beli yang belum pulih penuh masih menahan banyak usaha untuk berkembang lebih jauh.
Sorotan
- Jakpreneur telah memfasilitasi sekitar 8.000 UMKM Jakarta dengan NIB, sertifikasi halal, desain produk, dan HAKI hingga 22/6/2026, namun belum banyak yang naik kelas.
- DPRD DKI Jakarta menilai inkubator bisnis dan kolaborasi Bank DKI perlu diperkuat untuk mempermudah akses modal dan mendampingi UMKM setelah pelatihan.
- Pemasaran dan adaptasi digital menjadi hambatan utama, sehingga DPRD mendorong materi pembinaan UMKM lebih fokus pada strategi pemasaran, penguatan merek, dan keterlibatan di event besar.
Evaluasi pembinaan dan kebutuhan pendampingan lanjutan
Seperti dilaporkan Kompas.com, Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh menilai Jakpreneur telah memberi fondasi penting bagi pengembangan UMKM di Jakarta melalui fasilitas seperti pengurusan NIB, sertifikasi halal, bantuan desain produk, dan pengurusan HAKI. Ia menyampaikan pandangan itu saat dihubungi pada Senin, 22/6/2026.Meski demikian, ia menekankan keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya peserta pelatihan. Dalam rapat dengan mitra kerja, DPRD sempat menerima data sekitar 8.000 UMKM telah mengikuti pelatihan Jakpreneur, namun menurutnya angka itu belum menjawab berapa banyak peserta yang benar-benar berkembang menjadi pelaku usaha yang lebih mapan.
Nova menilai persoalan utama justru sering muncul setelah pelatihan selesai. Menurut dia, pembinaan selama tiga hari belum cukup untuk mencetak wirausaha yang tangguh, sehingga program perlu diperkuat dengan inkubator bisnis agar peserta yang dibina lebih tepat sasaran dan berpeluang menjadi wirausaha unggulan.
Ia juga mendorong kolaborasi inkubator bisnis dengan lembaga pembiayaan seperti Bank DKI. Skema itu dinilai dapat mempermudah akses modal bagi UMKM yang memiliki potensi untuk bertumbuh lebih cepat.
Tantangan pasar dan dampaknya bagi ekonomi Jakarta
Selain pembiayaan, DPRD menilai pemasaran masih menjadi hambatan paling dominan bagi banyak UMKM Jakarta. Banyak pelaku usaha dinilai sudah mampu menghasilkan produk yang baik, tetapi masih kesulitan menjualnya secara efektif, terutama di tengah tuntutan adaptasi digital yang semakin tinggi.Karena itu, materi pembinaan ke depan dinilai perlu lebih berfokus pada strategi pemasaran, penguatan merek, dan kreativitas pengembangan produk. Menurut Nova, dorongan terhadap creative thinking menjadi unsur penting bila Jakarta ingin mencetak lebih banyak wirausaha unggulan.
Ia menambahkan promosi UMKM tidak cukup hanya mengandalkan bazar rutin. Pelibatan UMKM dalam acara besar yang digelar Pemprov DKI, BUMD, maupun sektor pariwisata, seperti perayaan HUT DKI, festival kota, dan agenda berskala besar lainnya, dinilai dapat membuka akses pasar yang lebih luas.
Ke depan, ukuran keberhasilan kebijakan UMKM disebut perlu dibuat lebih konkret, bukan hanya berdasarkan jumlah peserta pelatihan. Fokus evaluasi, menurut DPRD, perlu diarahkan pada jumlah pelaku usaha yang benar-benar naik kelas, memperluas pasar, meningkatkan omzet, dan menciptakan lapangan kerja baru.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan penjualan UMKM di Jakarta, kami menyoroti bahwa penataan kawasan seperti Pasar Baru belum otomatis mendongkrak omzet, sementara pelaku usaha masih menghadapi lemahnya permintaan dan naiknya biaya operasional. Kami juga mencatat dampak digitalisasi—termasuk maraknya karya digital dan AI—yang menambah persaingan bagi usaha kreatif berbasis karya manual, sehingga kebutuhan dukungan promosi dan akses pasar menjadi semakin penting.
- Forex
- Crypto