Tekanan biaya hidup Jakarta menekan pekerja berupah di bawah UMR

Tekanan biaya hidup Jakarta menekan pekerja berupah di bawah UMR
Biaya hidup makin menekan

Tekanan biaya hidup di Jakarta terus membebani rumah tangga berpendapatan rendah, ketika harga kebutuhan pokok, sewa rumah, dan transportasi tetap tinggi. Di tengah kondisi itu, sebagian pekerja menyebut gaji bulanan mereka masih berada di bawah UMR Jakarta, sehingga ruang belanja keluarga makin tertekan.

Sorotan

  • Pendapatan pekerja seperti Anitia Arlatasya di Jakarta Selatan, Rp 2,5 juta per bulan, tidak mencukupi pengeluaran rumah tangga sekitar Rp 3 juta.
  • Suami Anitia dan pekerja lain memperoleh gaji di bawah UMR Jakarta Rp 5,7 juta, sehingga harus terus menekan pengeluaran dan menyesuaikan kebutuhan.
  • Pengeluaran makan keluarga di Jakarta dapat mencapai Rp 150.000 per hari, mencerminkan tekanan ekonomi harian yang melemahkan daya beli dan memicu stres warga.

Kesaksian warga soal beban pengeluaran harian

Seperti dilaporkan Kompas.com, tekanan ekonomi harian menjadi sumber stres utama bagi sejumlah warga Jakarta yang berupaya memenuhi kebutuhan keluarga di tengah kenaikan biaya hidup.

Salah satu warga Jakarta Selatan, Anitia Arlatasya, 25, mengatakan pengeluaran rumah tangganya melebihi pendapatan pribadinya. Bekerja di sebuah restoran, ia menerima gaji sekitar Rp 2,5 juta per bulan, sementara biaya sewa rumah, makan, dan susu anak mencapai sekitar Rp 3 juta.

Ia juga menyebut penghasilan suaminya masih di bawah Rp 5 juta, atau lebih rendah dari UMR Jakarta sebesar Rp 5,7 juta. Menurutnya, kondisi itu memaksa keluarga terus menyesuaikan pengeluaran setiap bulan, dan sesekali memicu rasa putus asa.

Keluhan serupa disampaikan Syamsudin Ilyas, 42, warga Jakarta Utara. Ia menilai kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar, termasuk Pertamax, memperbesar tekanan ekonomi, di samping persaingan kerja yang ketat.

Dampak pada daya beli dan kondisi sosial perkotaan

Ilyas mengatakan kebutuhan makan keluarga dapat mencapai sekitar Rp 150.000 per hari meski memasak sendiri. Gambaran itu menunjukkan pengeluaran rutin rumah tangga di Jakarta tetap tinggi bagi pekerja dengan pendapatan terbatas.

Situasi ini menegaskan bahwa tekanan ekonomi di ibu kota tidak hanya terkait satu pos belanja, tetapi merupakan akumulasi biaya harian yang menggerus daya beli dan kondisi mental warga. Bagi banyak keluarga, stres muncul bukan karena satu peristiwa besar, melainkan karena kebutuhan dasar yang terus menekan anggaran bulanan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang skema KPR rumah subsidi, kami mencatat pemerintah memastikan bunga KPR subsidi rumah tapak tetap 5% meski suku bunga acuan Bank Indonesia naik. Pemerintah juga menyetujui perpanjangan tenor pembiayaan hingga 40 tahun agar cicilan lebih terjangkau dan akses pembiayaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah tetap terjaga melalui perbankan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.