Ashutosh Sureka

Kenaikan harga Pertamax menekan anggaran rumah tangga konsumen di Jakarta

Kenaikan harga Pertamax menekan anggaran rumah tangga konsumen di Jakarta
Pertamax naik, biaya melesat

Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax mendorong konsumen kendaraan pribadi di Jakarta menyesuaikan pola belanja rutin mereka. Sejumlah pengguna mengaku biaya isi penuh tangki kini naik tajam, sementara mereka tetap bertahan memakai RON 92 karena mempertimbangkan spesifikasi mesin kendaraan.

Sorotan

  • Biaya pengisian tangki penuh Pertamax di Jakarta naik dari sekitar Rp 400.000 menjadi Rp 700.000 per 25/6/2026, meningkatkan tekanan pada anggaran rumah tangga.
  • Konsumen seperti Farhan mulai membatasi pembelian Pertamax per kunjungan SPBU menjadi Rp 200.000 demi menyesuaikan pengeluaran dengan anggaran pasca kenaikan harga.
  • Meski beban bulanan meningkat hampir Rp 500.000 per pekan, mayoritas pengguna tetap memilih RON 92 karena kekhawatiran terhadap dampak teknis dan biaya perawatan kendaraan.

Dampak kenaikan pada belanja harian

Seperti dilaporkan Kompas.com, keluhan pengguna Pertamax muncul setelah harga BBM nonsubsidi itu naik dalam beberapa pekan terakhir. Ahmad Sofian, 36 tahun, pemilik Toyota CR-V, mengatakan biaya mengisi tangki penuh yang biasanya sekitar Rp 400.000 kini menjadi Rp 700.000 saat ditemui di SPBU Cikini Raya, Jakarta Pusat, Kamis, 25/6/2026.

Sofian mengatakan satu kali isi penuh biasanya cukup untuk sekitar tiga hari pemakaian. Meski pengeluaran BBM meningkat, ia belum berencana beralih ke jenis bahan bakar lain karena khawatir kualitas yang berbeda dapat memengaruhi kondisi mesin dan memicu biaya perawatan yang lebih besar.

Keluhan serupa disampaikan Farhan, 29 tahun, yang kini membatasi pembelian Pertamax hanya Rp 200.000 setiap kali datang ke SPBU. Ia mengatakan pola pembelian berubah dari sebelumnya meminta tangki diisi penuh menjadi menyebut nominal tertentu agar pengeluaran tetap sesuai anggaran.

Pengguna tetap bertahan pada RON 92

Farhan mengatakan kendaraannya sejak awal menggunakan BBM dengan angka oktan RON 92, sehingga ia memilih tetap memakai Pertamax meski harga naik. Keputusan itu menunjukkan sensitivitas konsumen terhadap biaya belum sepenuhnya mengubah preferensi pada bahan bakar yang dianggap sesuai rekomendasi kendaraan.

Pengendara lain, Rifky Ghivari, 32 tahun, juga mengatakan kenaikan harga Pertamax menambah beban pengeluaran bulanan. Ia memperkirakan biaya bensin kini hampir Rp 500.000 untuk sekitar satu minggu, sehingga porsi belanja yang sebelumnya lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan bulanan bergeser ke pengeluaran bahan bakar.

Menurut Rifky, kualitas BBM tetap menjadi pertimbangan utama dibanding selisih harga. Ia berharap harga BBM dapat turun agar tidak semakin membebani masyarakat yang masih bergantung pada kendaraan pribadi untuk mobilitas kerja harian, terutama ketika penggunaan transportasi umum dinilai belum selalu praktis.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax sempat kami soroti sebagai faktor yang mulai menekan anggaran harian pengendara mobil di Jakarta. Dalam laporan itu, sejumlah pengguna tetap bertahan pada RON 92 meski biaya pengisian naik tajam, sementara sebagian lainnya menyesuaikan pola belanja—mulai dari membatasi nominal pembelian hingga menghitung ulang porsi pengeluaran bulanan untuk BBM.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.