BRI catat laba Rp20,42 triliun hingga Mei 2026, kredit tumbuh dua digit

BRI catat laba Rp20,42 triliun hingga Mei 2026, kredit tumbuh dua digit
Laba BRI tumbuh signifikan

Menjelang akhir kuartal II-2026, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menjaga pertumbuhan profitabilitas dengan laba bank only mencapai Rp20,42 triliun hingga Mei 2026. Kinerja ini ditopang penurunan beban bunga dan ekspansi kredit yang tetap tumbuh dua digit, di tengah kenaikan pencadangan dan beban operasional.

Sorotan

  • Laba BRI hingga Mei 2026 naik 9,52% yoy menjadi Rp20,42 triliun, didukung penurunan beban bunga 14,37% yoy ke Rp18,26 triliun.
  • Penyaluran kredit tumbuh 12,23% yoy menjadi Rp1.417,19 triliun dan aset naik 9,49% yoy menjadi Rp2.073,12 triliun per Mei 2026.
  • Dana pihak ketiga tumbuh 8,61% yoy ke Rp1.546,44 triliun, dengan dana murah meningkat 17,98% yoy dan deposito turun 8,82% yoy.

Kinerja bunga dan profitabilitas hingga Mei 2026

Seperti dilaporkan KONTAN, merujuk laporan keuangan perseroan, laba BRI hingga Mei 2026 naik 9,52% secara tahunan menjadi Rp20,42 triliun. Laju ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan laba 5,91% yoy pada bulan sebelumnya.

Salah satu penopang utama berasal dari beban bunga yang turun 14,37% yoy menjadi Rp18,26 triliun. Meski pendapatan bunga terkoreksi tipis 0,07% yoy menjadi Rp66,76 triliun, pendapatan bunga bersih atau net interest income BRI masih tumbuh 6,64% yoy menjadi Rp48,5 triliun.

Dari sisi operasional lain, BRI mulai menaikkan pencadangan atau impairment sebesar 7,5% yoy menjadi Rp19,06 triliun pada periode Januari hingga Mei 2026. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi juga tumbuh 4,48% yoy menjadi Rp8,59 triliun, sementara beban operasional lainnya naik 9,52% yoy menjadi Rp20,42 triliun.

Dengan perkembangan itu, laba operasional BRI tumbuh 8,37% yoy menjadi Rp25,53 triliun. Teks sumber juga menyebut capaian tersebut hingga akhir Mei 2025, namun keseluruhan konteks laporan mengacu pada periode Mei 2026.

Pertumbuhan kredit dan dana murah menopang neraca

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit BRI tumbuh 12,23% yoy menjadi Rp1.417,19 triliun hingga Mei 2026. Pertumbuhan kredit ini ikut mendorong aset bank naik 9,49% yoy menjadi Rp2.073,12 triliun.

Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga BRI meningkat 8,61% yoy menjadi Rp1.546,44 triliun. Kenaikan DPK terutama ditopang dana murah yang tumbuh 17,98% yoy menjadi Rp1.092,27 triliun.

Secara rinci, giro naik 25,23% yoy menjadi Rp484,9 triliun dan tabungan bertambah 12,78% yoy menjadi Rp607,37 triliun. Di sisi lain, deposito yang tergolong dana mahal turun 8,82% yoy menjadi Rp454,16 triliun, memberi ruang bagi perbaikan struktur pendanaan di tengah tekanan biaya operasional dan pencadangan.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang strategi BRI Finance menghadapi kenaikan BI Rate ke 5,75%, kami membahas tekanan biaya dana yang berpotensi menekan spread pembiayaan serta risiko kenaikan pembiayaan bermasalah. Kami juga mengulas langkah BRI Finance untuk menjaga margin dan profitabilitas hingga 2026 melalui penyesuaian pricing, efisiensi operasional, diversifikasi pendanaan (termasuk joint financing dengan BRI), serta ekspansi yang lebih selektif berfokus pada kualitas aset.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.