UMKM Jakarta Barat hadapi lonjakan biaya bahan baku saat penjualan mulai melemah
Tekanan biaya input di tengah kondisi ekonomi saat ini mulai membebani pelaku UMKM di Jakarta Barat, terutama usaha kerajinan yang bergantung pada bahan baku impor atau bernilai tinggi. Di Pekan Raya Grogol pada Jumat, 26 Juni 2026, seorang perajin aksesori menyebut kenaikan harga mutiara air tawar telah mendorong penyesuaian harga jual dan menahan kapasitas stok.
Sorotan
- Elva Accesories di Jakarta Barat menghadapi kenaikan harga bahan baku mutiara air tawar dari Rp 75.000 pada 2024 menjadi hampir Rp 300.000 pada 2026.
- Penyesuaian harga produk perhiasan naik, dengan model berbahan mutiara air tawar meningkat dari sekitar Rp 750.000 menjadi di atas Rp 1 juta.
- Omzet mingguan UMKM turun ke kisaran Rp 1 juta-Rp 2 juta di tengah permintaan melemah dan kenaikan biaya bahan baku membatasi fleksibilitas produksi.
Lonjakan harga bahan baku sejak 2024
Seperti dilaporkan Kompas.com, Elva, pemilik Elva Accesories, mengatakan harga mutiara air tawar sebagai bahan baku utama usahanya naik hampir empat kali lipat dalam sekitar dua tahun. Ia menyebut harga rencengan mutiara yang sekitar 1 sampai 2 tahun lalu masih Rp 75.000 kini sudah mendekati Rp 300.000 per pak saat ditemui di Pekan Raya Grogol, Jakarta Barat.Menurut Elva, kenaikan itu berlangsung bertahap, dari kisaran Rp 75.000 pada 2024 menjadi Rp 150.000 pada 2025, lalu menyentuh Rp 300.000 pada 2026. Akibat lonjakan tersebut, ia mengaku tidak lagi berani membeli bahan baku dalam jumlah besar dan kini memanfaatkan sisa bahan yang sebelumnya tidak terpakai karena cacat bentuk.
Elva menjual berbagai perhiasan buatan tangan, termasuk gelang, cincin, dan anting, dengan kisaran harga dari Rp 50.000 hingga Rp 3 juta di stan UMKM acara tersebut. Ia juga menaikkan harga sejumlah produk, termasuk model berbahan mutiara air tawar, misalnya dari sekitar Rp 750.000 menjadi di atas Rp 1 juta.
Dampak pada omzet dan daya tahan usaha kecil
Penyesuaian harga jual terjadi ketika pelaku usaha kecil juga menghadapi permintaan yang lebih rapuh. Elva, yang menjalankan usaha bersama anaknya, mencatat omzet sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per minggu.Kondisi ini menunjukkan tekanan ganda bagi UMKM, karena kenaikan biaya bahan baku langsung memangkas fleksibilitas produksi dan mempersempit kemampuan menjaga harga tetap terjangkau. Elva berharap pemerintah terus memberi fasilitas bagi pedagang kecil, termasuk membantu menstabilkan harga berbagai bahan baku usaha yang terus meningkat.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang MEKAR Ecosystem PT Mekar Investama Teknologi, kami mengulas model pembiayaan produktif yang menghubungkan akses modal dengan pendampingan usaha, akses pasar, dan penguatan rantai nilai untuk pertanian serta UMKM. Kami juga menyoroti program MMAF yang memadukan pembiayaan pertanian dengan pendampingan agronomi dan pemantauan satelit, serta fokus inklusi keuangan dengan mayoritas penerima pembiayaan adalah UMKM milik perempuan.
- Forex
- Crypto