IHSG diperkirakan uji support 5.700-5.800 di tengah tekanan pasar

IHSG diperkirakan uji support 5.700-5.800 di tengah tekanan pasar
IHSG uji support penting

Tekanan jual yang berlanjut di pasar saham domestik membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan masih rentan pada awal pekan. Area 5.700-5.800 kini menjadi level penting untuk menahan koreksi lebih dalam setelah indeks mencatat pelemahan tajam pada pekan 22-26 Juni 2026.

Sorotan

  • IHSG ditutup di bawah MA5, MA10, dan MA20 dengan peluang uji support 5.700-5.800 pada pekan depan menurut Indo Premier Sekuritas.
  • IHSG turun 4,55 persen ke 5.896,134 selama 22-26 Juni 2026, sejalan kapitalisasi pasar susut 4,51 persen ke Rp10.302 triliun.
  • Aksi jual massal investor asing memicu net foreign sell Rp3,19 triliun di pasar reguler sepanjang pekan, menekan performa IHSG.

Prospek teknikal dan batas pembalikan tren

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, analis ekuitas PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menilai posisi penutupan indeks yang masih berada di bawah garis rata-rata bergerak MA5, MA10, dan MA20 menunjukkan pemulihan yang masih rapuh.

Pelemahan itu juga tercermin dari histogram positif pada indikator MACD yang menyusut serta pergerakan Stochastic RSI yang mulai terbatas di area pivot. Dalam analisanya pada Senin, 29 Juni 2026, Brigita mengatakan IHSG berpeluang menguji area support 5.700-5.800 pada pekan depan.

Selama area support tersebut bertahan, pergerakan indeks diperkirakan masih berkonsolidasi dalam kisaran 5.500-6.400. Konfirmasi pembalikan tren menjadi bullish baru terbentuk jika IHSG mampu menutup perdagangan mingguan di atas level 6.452, sehingga penguatan sebelum level itu masih dikategorikan sebagai relief rally.

Tekanan asing dan dampaknya ke kapitalisasi pasar

Pandangan pelemahan lanjutan itu mengacu pada kinerja bursa selama sepekan terakhir, 22-26 Juni 2026, ketika IHSG turun 4,55 persen ke level 5.896,134 dari 6.177 pada pekan sebelumnya.

Penurunan tersebut sejalan dengan susutnya kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia sebesar 4,51 persen menjadi Rp10.302 triliun. Koreksi tajam itu terutama dipicu aksi jual massal investor asing, dengan nilai jual bersih atau net foreign sell mencapai Rp3,19 triliun di pasar reguler.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan jual di pasar saham Indonesia pada pekan 22–26 Juni 2026, kami membahas penurunan IHSG 4,55% hingga kembali di bawah level psikologis 5.900. Kami juga mencatat penyusutan kapitalisasi pasar BEI serta melemahnya likuiditas, terlihat dari turunnya frekuensi dan volume transaksi harian pada periode yang sama.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.