Ashutosh Sureka

Bank Himbara diproyeksikan memimpin pertumbuhan laba big banks pada semester I-2026

Bank Himbara diproyeksikan memimpin pertumbuhan laba big banks pada semester I-2026
Himbara kuasai laba 2026

Kinerja bank-bank besar diperkirakan menguat pada semester I-2026 seiring capaian laba dan kredit hingga Mei yang menunjukkan pemulihan lebih menonjol di kelompok bank milik negara. Tren ini menempatkan Bank Mandiri, BRI, dan BNI di posisi lebih unggul dalam pertumbuhan dibandingkan BBCA, meski bank swasta terbesar itu tetap dinilai kuat dari sisi kualitas aset dan keberlanjutan kinerja.

Sorotan

  • Data Mei 2026 menunjukkan laba bersih BMRI tumbuh 18,64% menjadi Rp 23,31 triliun, BBRI naik 9,52% jadi Rp 20,42 triliun, dan BBNI naik 7,06% menjadi Rp 9,05 triliun.
  • Pertumbuhan kredit dipimpin BBNI naik 24,55% menjadi Rp 940,88 triliun dan BMRI naik 20,56% ke Rp 1.578,94 triliun, sedangkan BBCA tumbuh 4,85%.
  • Kiwoom Sekuritas merekomendasikan overweight sektor perbankan dengan top picks BBRI target Rp 3.500, BMRI Rp 5.300, dan BBNI Rp 4.400 per saham.

Proyeksi kinerja dan pendorong pertumbuhan

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data hingga Mei 2026 menunjukkan bank-bank Himbara mencatat pertumbuhan laba bersih bank only yang solid dan dinilai cukup merepresentasikan hasil semester I-2026 karena hanya tersisa satu bulan sebelum penutupan periode. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba Rp 23,31 triliun, naik 18,64% secara tahunan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat laba Rp 20,42 triliun, tumbuh 9,52%, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) meraih laba Rp 9,05 triliun, bertambah 7,06%.

Di kelompok bank swasta besar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat pertumbuhan laba yang lebih moderat, naik 2,07% secara tahunan menjadi Rp 25,68 triliun. Pada sisi penyaluran kredit, BBNI memimpin dengan pertumbuhan 24,55% menjadi Rp 940,88 triliun, diikuti BMRI yang naik 20,56% menjadi Rp 1.578,94 triliun, BBRI yang tumbuh 12,23% menjadi Rp 1.427,19 triliun, dan BBCA yang naik 4,85% menjadi Rp 969,09 triliun.

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai Himbara mulai menunjukkan pemulihan yang lebih solid, tercermin dari kenaikan kredit dan laba. Menurut dia, kondisi itu didukung oleh akselerasi penyaluran kredit korporasi serta penurunan biaya dana seiring suku bunga acuan yang masih akomodatif, sementara BBCA diperkirakan tetap membukukan pertumbuhan lebih moderat karena menjaga kualitas aset dan disiplin ekspansi kredit.

Dampak pada saham dan prospek sektor perbankan

Sukarno menilai perbedaan fundamental tersebut berpotensi memicu rotasi di sektor perbankan. Saham-saham Himbara, terutama BBRI dan BMRI, dinilai memiliki ruang re-rating yang ditopang ekspektasi pemulihan laba yang lebih kuat serta valuasi yang relatif lebih menarik.

Di sisi lain, BBCA diperkirakan tetap menjadi pilihan utama investor asing berkat kualitas aset, profitabilitas yang konsisten, dan likuiditas saham yang tinggi. Karena itu, meski pertumbuhan labanya lebih landai, kinerja harga saham BBCA masih berpotensi tetap solid selama arus dana asing berlanjut.

Ke depan, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, perkembangan rasio kredit bermasalah, kondisi likuiditas perbankan, keberlanjutan arus dana asing, percepatan belanja pemerintah, dan pemulihan investasi swasta menjadi katalis utama yang dicermati untuk semester II-2026 hingga akhir tahun. Kiwoom Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan, dengan top picks pada BBRI bertarget Rp 3.500 per saham, BMRI Rp 5.300 per saham, dan BBNI Rp 4.400 per saham.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penempatan dana SAL di bank-bank Himbara, kami membahas keputusan pemerintah menempatkan kembali sekaligus menambah dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sejumlah bank BUMN hingga sekitar Rp400 triliun untuk memperkuat likuiditas di tengah indikasi pengetatan pasar. Kami juga mengulas skema penempatan jangka panjang dan tenor pendek 3–4 bulan yang ditujukan menjaga stabilitas pendanaan serta membuka ruang penyaluran kredit dalam jangka dekat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.