BEI perkirakan potensi arus keluar asing hingga Rp4 triliun setelah pengumuman S&P DJI

BEI perkirakan potensi arus keluar asing hingga Rp4 triliun setelah pengumuman S&P DJI
BEI prediksi outflow asing

Bursa Efek Indonesia sedang menilai dampak pengumuman S&P Dow Jones Index terhadap posisi pasar modal Indonesia di indeks global. Potensi arus keluar dana asing disebut berada di kisaran USD200 juta, sementara bursa menilai perubahan itu tidak terjadi seketika karena biasanya ada masa transisi sebelum klasifikasi baru diterapkan.

Sorotan

  • BEI memperkirakan potensi arus keluar asing sebesar Rp3,5 triliun hingga Rp4 triliun setelah pengumuman S&P DJI terkait penurunan klasifikasi pasar Indonesia.
  • Masa transisi diperkirakan berlangsung sekitar satu tahun menurut surat dari S&P DJI, memberi waktu bagi BEI untuk melakukan perbaikan sebelum klasifikasi berubah.
  • BEI telah mendiskusikan reformasi, termasuk kebijakan free float 15 persen dan laporan pemegang saham, untuk menjaga kepercayaan investor di tengah risiko outflow.

Estimasi arus keluar dan masa transisi

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengatakan potensi outflow asing yang diterima dari sejumlah pihak berada di sekitar Rp3,5 triliun, atau setara USD200 juta hingga Rp3,6 triliun sampai Rp4 triliun, setelah rilis S&P DJI.

Ia mengatakan BEI masih mendalami besaran arus keluar yang mungkin terjadi seiring potensi penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Menurutnya, dampak tersebut memang berpotensi muncul, tetapi tidak berlangsung secara instan dalam waktu dekat.

Irvan menjelaskan mekanisme evaluasi indeks global biasanya memberi periode transisi sebelum perubahan klasifikasi benar-benar dijalankan. Ia menyebut S&P DJI umumnya masih memberikan waktu sekitar satu tahun dalam suratnya, sehingga BEI berharap perbaikan yang dilakukan dapat mendorong pernyataan yang lebih positif sebelum tenggat itu berakhir.

Langkah BEI menjaga kepercayaan investor

Untuk merespons pengumuman itu, BEI telah menghubungi S&P DJI guna berdiskusi dan memaparkan reformasi yang sudah dijalankan di pasar modal Indonesia.

Sejumlah langkah yang disampaikan mencakup kebijakan free float 15 persen, pengumuman daftar pemegang saham di atas 1 persen, serta penerapan daftar High Shareholder Concentration. Langkah-langkah ini menjadi bagian dari upaya bursa menjaga kepercayaan investor dan memperkuat kualitas pasar di tengah risiko perubahan klasifikasi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan saham perbankan besar setelah Indonesia masuk watchlist S&P DJI, kami mencatat pelemahan BBNI, BMRI, BBRI, dan BBCA seiring investor cenderung wait and see terhadap isu struktur dan aksesibilitas pasar modal. Kami juga mengulas bahwa volatilitas arus dana asing bisa berlanjut, sementara opsi seperti buyback dinilai dapat membantu menstabilkan harga, meski efektivitasnya tetap bergantung pada tekanan pasar dan likuiditas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.