Taspen dan ASABRI tunggu skema pelunasan utang pemerintah

Taspen dan ASABRI tunggu skema pelunasan utang pemerintah
Taspen & ASABRI tunggu pelunasan

Dua BUMN asuransi sosial negara masih menunggu kepastian pembayaran piutang Unfunded Past Service Liability dari pemerintah di tengah upaya menjaga keberlanjutan keuangan. Nilai tagihan yang belum dibayar mencapai Rp 25,8 triliun untuk PT TASPEN (Persero) dan Rp 5,17 triliun untuk PT ASABRI (Persero), dengan penyelesaian yang kini terkait pembahasan skema dan ruang APBN.

Sorotan

  • TASPEN menunggu keputusan pemerintah terkait skema pembayaran piutang UPSL sebesar Rp 25,8 triliun yang sudah dicatat sebagai utang oleh Kementerian Keuangan.
  • ASABRI menanti pencairan piutang UPSL Rp 5,17 triliun dengan harapan masuk dalam APBN 2027, sementara pembayaran tergantung realisasi APBN.
  • TASPEN meraih laba Rp 1,04 triliun (123,84% target) dan ASABRI membukukan laba Rp 713,72 miliar (naik 158,97%), di mana penyelesaian piutang UPSL penting untuk keberlanjutan keuangan kedua BUMN.

Skema pembayaran dan pembahasan anggaran

KONTAN melaporkan, PT TASPEN (Persero) menyatakan pemerintah sampai saat ini belum membayarkan piutang Unfunded Past Service Liability, atau UPSL, sebesar Rp 25,8 triliun. Direktur Utama TASPEN Rony Hanityo Aprianto mengatakan Kementerian Keuangan sudah mencatatkannya sebagai utang, tetapi skema pembayaran yang akan dipilih masih digodok.

Dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR RI pada Rabu, 8 Juli 2026, Rony menyatakan pembayaran UPSL akan sangat membantu keberlanjutan TASPEN di masa mendatang, terutama di tengah rasio klaim yang cukup tinggi. Ia berharap penyelesaian dapat dilakukan melalui cicilan lima tahun, 10 tahun, atau skema lain yang masih menunggu keputusan.

Sementara itu, PT ASABRI (Persero) juga menyampaikan adanya piutang UPSL sebesar Rp 5,17 triliun. Direktur Utama ASABRI Jeffry Haryadi Manullang mengatakan pihaknya sudah mengajukan pencairan dana tersebut, dan Kementerian Keuangan telah mengakuinya dalam laporan keuangan Pemerintah Pusat, namun pembayarannya menunggu kemampuan realisasi APBN.

Jeffry berharap dana itu dapat dimasukkan dalam APBN 2027 untuk mendukung keberlanjutan perusahaan. Dalam kesimpulan rapat, Komisi VI DPR RI mendukung penyelesaian mekanisme pembayaran UPSL TASPEN dan ASABRI sebagai bagian dari penguatan kesehatan keuangan perusahaan dan jaminan pemenuhan hak peserta.

Kinerja 2025 dan dampak bagi keberlanjutan

TASPEN membukukan laba Rp 1,04 triliun pada 2025, atau 123,84% dari target yang ditetapkan. Kinerja itu ditopang hasil investasi Rp 9,87 triliun, disusul iuran dan premi Rp 7,74 triliun serta pendapatan lain Rp 1,86 triliun, sementara beban klaim sepanjang 2025 mencapai Rp 14,90 triliun.

Laba TASPEN berasal dari pengelolaan program Tabungan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian. Besarnya tagihan UPSL yang belum dibayar menjadi faktor penting bagi ruang keuangan perseroan karena tambahan arus kas dari pemerintah dinilai dapat menopang sustainabilitas bisnis di tengah tekanan klaim.

ASABRI pada 2025 mencatat laba bersih Rp 713,72 miliar, naik 158,97% dibandingkan Rp 275,60 miliar pada tahun sebelumnya. Hasil investasi perusahaan mencapai Rp 985,03 miliar, meningkat 56,82% dari Rp 628,13 miliar, sehingga penyelesaian piutang UPSL juga berpotensi memperkuat posisi keuangan perusahaan dan kesinambungan layanan kepada peserta.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang utang UPSL pemerintah kepada PT TASPEN, perseroan menegaskan nilai piutang Rp 25,8 triliun yang masih menunggu kepastian skema pelunasan meski sudah diakui sebagai kewajiban. Kami juga menyoroti bahwa realisasi pembayaran UPSL, bersama kepastian regulasi dan reformasi skema pendanaan, dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan program jaminan sosial ASN di tengah rasio klaim yang tinggi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.