Bank-bank Indonesia masih catat NPL tinggi di tengah perlambatan ekonomi
Kualitas kredit perbankan Indonesia masih terjaga pada Mei 2026, meski sejumlah bank tetap membukukan rasio kredit bermasalah yang relatif tinggi. Stabilnya rasio NPL industri di level 2,17% menunjukkan tekanan belum meluas, tetapi perlambatan ekonomi saat ini tetap mendorong bank memperketat pengelolaan kualitas aset.
Sorotan
- Rasio NPL gross industri perbankan stabil di 2,17% pada Mei 2026, sementara NPL net tetap di 0,84%, menurut OJK.
- PT KB Bank mencatat kenaikan NPL gross menjadi 9,93% per Maret 2026, sedangkan Bank Amar turun ke 8,14% dan Bank of India Indonesia ke 5,4%.
- Bank menghadapi tekanan perlambatan ekonomi dengan fokus pada peningkatan CASA, penataan portofolio kredit, dan penyaluran kredit ke segmen berisiko rendah.
Peta NPL bank dan kondisi industri
KONTAN Indonesia melaporkan, data Otoritas Jasa Keuangan, OJK, per Selasa 7 Juli 2026 menunjukkan rasio non-performing loan, NPL, gross industri perbankan pada Mei 2026 bertahan di 2,17%, sama seperti April 2026. NPL net industri juga stabil di 0,84%, menandakan kualitas kredit secara umum masih terjaga di tengah potensi tekanan ekonomi.
Di tengah stabilitas industri itu, sejumlah bank masih mencatat NPL gross yang tinggi. Per Maret 2026, PT Bank Amar membukukan NPL gross 8,14%, turun dari 10,89% pada periode yang sama tahun sebelumnya, sementara PT KB Bank mencatat kenaikan menjadi 9,93% dari 9,10% pada Maret 2025.
Bank of India Indonesia, BSWD, mencatat NPL 5,4%, turun dari 7,09 pada Maret 2025. Sejumlah bank lain juga berada dekat level 5%, yakni Bank Raya 4,81%, Bank Sahabat Sampoerna 4,51%, Bank Banten 4,50%, Bank Mayapada 3,6%, Bank MNC 3,23%, dan Bank INA 3,13%.
Strategi bank menghadapi tekanan kualitas aset
Direktur Utama PT Bank INA, Henry Koenaifi, mengatakan perlambatan ekonomi saat ini diperkirakan memberi tekanan terhadap kualitas aset dan berpotensi mendorong kenaikan NPL. Menurut dia, kondisi tersebut masih dapat dikelola lewat evaluasi internal dan inisiatif untuk memperbaiki kinerja bank.Henry mengatakan belum ada sektor kredit tertentu yang secara spesifik dinilai paling berisiko mengalami pemburukan kualitas aset, meski tekanan dapat muncul di berbagai sektor. Untuk menjaga kualitas aset hingga akhir tahun, Bank INA berfokus meningkatkan dana murah atau CASA, menyalurkan KPR ke segmen menengah, serta mengembangkan produk dengan risiko lebih rendah.
Di bank lain, Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan tingginya NPL masih dipengaruhi penataan kualitas portofolio kredit, termasuk warisan lama, sehingga bank tetap menerapkan prinsip kehati-hatian agar profil risiko tercermin konservatif dan transparan. SVP Finance Amar Bank David Wirawan menilai NPL gross tidak cukup menjadi satu-satunya acuan kualitas aset bank digital di segmen mikro tanpa agunan, sementara Direktur Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra menyebut tingginya NPL dipengaruhi paparan kredit UMKM yang mencapai 58%, meski rasio NPL net 2,7% belum menghambat ekspansi kredit baru.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penyesuaian tenaga kerja perbankan di era transformasi digital, kami menyoroti bahwa perhatian regulator atas pemangkasan karyawan skala besar saat itu terutama terjadi di KB Bank sebagai bagian dari proses penyehatan dan efisiensi. Kami juga mencatat OJK belum menerima laporan PHK massal dari bank lain, sementara industri lebih banyak melakukan penyesuaian organisasi dan pergeseran kebutuhan talenta ke fungsi digital seperti data, AI, dan keamanan siber.
- Forex
- Crypto