Program cetak sawah rakyat di Papua dorong produksi pangan dan pendapatan petani
Dukungan pemerintah terhadap pengelolaan lahan masyarakat di Papua mulai meningkatkan hasil panen dan frekuensi tanam di wilayah tersebut. Program Cetak Sawah Rakyat juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sambil menjaga kepemilikan lahan tetap berada di tangan masyarakat adat.
Sorotan
- Produktivitas lahan sawah rakyat di Papua naik dari sekitar 3 ton gabah per hektare menjadi sekitar 7 ton per hektare berkat mekanisasi dan pendampingan.
- Intensitas tanam bertambah dari hanya satu kali setahun menjadi hingga tiga kali tanam, meningkatkan total produksi dan pendapatan petani Papua.
- Program Cetak Sawah Rakyat mempertahankan skema kepemilikan lahan masyarakat, meningkatkan kapasitas produksi di lahan seluas 112 hektare dengan dukungan alsintan dan teknologi budidaya.
Dukungan sarana produksi dan kenaikan hasil panen
Menurut Kementerian Pertanian Indonesia, Program Cetak Sawah Rakyat di Papua dijalankan melalui pemanfaatan lahan milik masyarakat dengan bantuan alsintan, irigasi, benih unggul, dan pendampingan teknologi budidaya.Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pembangunan pertanian di Papua ditujukan untuk membangun kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia mengatakan kebutuhan pangan di Papua perlu dipenuhi dari hasil produksi daerah sendiri sambil tetap mengembangkan beras, sagu, ubi, dan pangan lokal lainnya bersama masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menekankan program itu bukan pengambilalihan lahan masyarakat. Menurut Amran, lahan tetap dimiliki masyarakat, sementara pemerintah membantu optimalisasi pengelolaan melalui mekanisasi dan dukungan input produksi.
Produktivitas lahan yang sebelumnya sekitar 3 ton gabah per hektare kini meningkat menjadi sekitar 7 ton per hektare. Intensitas tanam juga naik dari satu kali setahun menjadi hingga tiga kali tanam, sehingga produksi dan pendapatan petani terus bertambah.
Dampak bagi ketahanan pangan Papua
Amran menilai kenaikan produktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Papua. Ia juga menekankan pembangunan pertanian saat ini diperlukan untuk menjawab kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.Di Merauke, pemilik hak ulayat Hermannus Mahuse mengatakan kondisi di lapangan berbeda dari narasi yang berkembang di luar Papua. Menurutnya, masyarakat tetap memiliki dan mengelola lahannya sendiri, sementara pemerintah membantu membuka dan meningkatkan produktivitas lahan untuk dinikmati hasilnya oleh masyarakat setempat.
Hermannus menambahkan bantuan Program Cetak Sawah Rakyat dan alsintan dari Kementerian Pertanian membantu masyarakat adat mengelola lahan secara lebih modern. Ia mengatakan dukungan tersebut memungkinkan pengelolaan lahan seluas 112 hektare dan memperbesar kapasitas produksi petani lokal.
Dengan skema kepemilikan lahan yang tetap berada pada masyarakat, program ini menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat produksi pangan nasional dari wilayah timur Indonesia. Kombinasi mekanisasi, benih unggul, irigasi, dan teknologi budidaya juga membuka peluang peningkatan usaha tani dan kesejahteraan petani di Papua.
Dalam artikel kami sebelumnya, perluasan dan optimalisasi lahan pertanian di Merauke lewat Program OPLAH dan Cetak Sawah Rakyat disebut mendorong lonjakan produksi padi pada 2025 dibanding 2024. Dukungan pemerintah berupa alsintan, benih unggul, pupuk, dan sarana penunjang mempercepat intensifikasi serta meningkatkan nilai ekonomi petani, termasuk mendorong peralihan dari pertanian tradisional ke sistem yang lebih modern.
Berita Bank of Japan Terbaru
- Forex
- Crypto