Bank DBS Indonesia catat AUM nasabah kaya naik 13% di tengah volatilitas pasar

Bank DBS Indonesia catat AUM nasabah kaya naik 13% di tengah volatilitas pasar
AUM DBS naik 13%

Di tengah ketidakpastian suku bunga dan gejolak pasar, bisnis wealth management Bank DBS Indonesia tetap bertumbuh hingga Juni 2026. Kenaikan dana kelolaan di segmen prioritas ikut mendorong pendapatan dan laba bersih bank, mempertegas kontribusi unit ini terhadap kinerja perseroan.

Sorotan

  • Bank DBS Indonesia mencatat pertumbuhan asset under management segmen prioritas sebesar 13% yoy dan AUM per nasabah naik 15% yoy hingga Juni 2026.
  • Pendapatan unit wealth management DBS Indonesia tumbuh 34% yoy, didorong komisi investasi yang meningkat 65% yoy dan laba bersih naik 24% yoy.
  • Nasabah mulai kembali melirik obligasi tenor panjang seiring penurunan selisih imbal hasil, serta minat tinggi pada reksadana saham offshore dan structured product derivatif.

Pertumbuhan AUM dan strategi layanan nasabah

KONTAN melaporkan, Bank DBS Indonesia mencatat kenaikan asset under management di segmen prioritas atau private client sebesar 13% secara tahunan per Juni 2026, sementara total AUM per nasabah tumbuh 15% yoy.

Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan capaian itu diraih saat kondisi pasar masih sulit diprediksi. Menurut dia, bank semula memasang asumsi penurunan suku bunga acuan global dan domestik pada 2026, tetapi pergerakan yang terjadi justru berlawanan.

Untuk menjaga loyalitas nasabah, DBS Indonesia memastikan klien tetap memperoleh informasi atas setiap perubahan pasar agar dapat menyesuaikan strategi investasinya. Melfrida menjelaskan tim relationship manager berperan menerjemahkan insight pasar ke dalam eksekusi portofolio yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing nasabah.

Preferensi investasi dan dampak pada pendapatan

Head of Investment & Insurance Product DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan pilihan investasi nasabah tetap bergantung pada profil dan kebutuhannya, tetapi imbal hasil menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi minat terhadap produk tertentu.

Ia menjelaskan minat investor sebelumnya sempat bergeser ke obligasi, terutama tenor pendek, saat imbal hasilnya lebih tinggi daripada tenor panjang. Kini, ketika selisih imbal hasil mulai menyempit, nasabah dinilai berpotensi kembali melirik obligasi jangka panjang.

Selain obligasi, DBS Indonesia melihat minat pada reksadana saham offshore, termasuk produk syariah dari Asia dan Amerika serta eksposur ke sektor teknologi dan infrastruktur. Bank juga mencermati permintaan tinggi untuk structured product berbasis derivatif, yang dinilai lebih unggul saat volatilitas pasar meningkat.

Kinerja wealth management tersebut ikut menopang hasil usaha perseroan. Dalam periode yang sama, total pendapatan bisnis ini tumbuh 34% yoy, ditopang antara lain oleh pendapatan komisi investasi yang naik 65% yoy, sementara laba bersih bertambah 24% yoy.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergerakan IHSG pada 15 Juli 2026, kami mencatat indeks ditutup menguat tipis ke 6.041 dengan nilai transaksi Rp11,3 triliun di tengah pergerakan sektor yang masih beragam. Laporan tersebut menyoroti rotasi sektor serta saham-saham top gainers dan losers, yang menunjukkan sentimen pasar cenderung selektif dan menjadi konteks penting bagi keputusan alokasi aset investor.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.