Kementan percepat mitigasi kekeringan untuk jaga produksi pangan nasional
Memasuki musim kemarau 2026, Kementerian Pertanian memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan air di sentra produksi pangan. Upaya ini mencakup percepatan penyaluran pompa air, pemanfaatan sumber air alternatif, pendampingan penyuluh, dan penggunaan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi kering.
Sorotan
- Kementan menargetkan distribusi 11.000 unit pompa air sepanjang 2024 ke seluruh Indonesia sebagai respons antisipatif terhadap fenomena El Nino lemah-moderat.
- Kelompok Tani Tunggal Jaya di Purwakarta mengelola 25 hektare sawah dengan empat hingga lima pompa air dan menanam varietas Inpago 13 Fortis untuk menjaga produktivitas selama musim kemarau.
- Mitigasi kekeringan dilakukan terpadu melalui pendampingan penyuluh, pemanfaatan sumber air alternatif, penyesuaian pola tanam, dan penggunaan varietas unggul adaptif perubahan iklim.
Strategi mitigasi dan target distribusi pompa
Seperti disampaikan Kementerian Pertanian Indonesia, penguatan mitigasi dilakukan sebagai respons atas perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahwa fenomena El Nino tahun ini berada pada kategori lemah hingga moderat, sehingga langkah antisipatif dipercepat di wilayah produksi pangan.Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah bergerak cepat agar kekeringan tidak menekan produktivitas pertanian. Ia menyatakan ketersediaan air harus dipastikan agar indeks pertanaman dan produktivitas tetap terjaga melalui koordinasi Kementan, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lain.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, mengatakan penyediaan pompa air menjadi salah satu strategi utama. Hingga pertengahan 2026, Kementan telah menyalurkan lebih dari 9.000 unit pompa air ke berbagai daerah sentra produksi, sementara alokasi tahun ini ditargetkan sekitar 11.000 unit untuk seluruh Indonesia.
Ia menambahkan mitigasi tidak hanya bertumpu pada bantuan pompa air, tetapi juga dilakukan secara terpadu melalui pendampingan penyuluh pertanian, pemanfaatan sumber air alternatif, penyesuaian pola tanam, serta penggunaan varietas unggul yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Dampak bagi petani dan ketahanan produksi
Salah satu penerapan strategi tersebut terlihat di Kelompok Tani Tunggal Jaya di Desa Karya Mekar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Purwakarta. Sejak awal tahun, petani bersama penyuluh menyiapkan langkah antisipasi setelah menerima informasi mengenai potensi kekeringan.Ketua Kelompok Tani Tunggal Jaya, Cecep Sopandi, mengatakan kesiapsiagaan petani menjadi faktor penting agar musim tanam tetap berjalan pada musim kemarau. Sejak Februari, kelompoknya menyiapkan sumber air dan pompa untuk mengalirkan air ke sawah, termasuk menggunakan pompa bantuan pemerintah dan pompa milik petani secara bergantian.
Kelompok tani itu mengelola sekitar 25 hektare lahan sawah dan mengoperasikan empat hingga lima unit pompa air untuk memenuhi kebutuhan musim tanam kedua. Pasokan air berasal dari sumur pantek yang dibangun swadaya, bekas galian C yang menjadi tampungan air hujan, serta aliran sungai kecil di sekitar areal persawahan.
Selain menjaga pasokan air, petani juga menanam varietas Inpago 13 Fortis yang dinilai lebih toleran terhadap kondisi kering, berumur genjah, dan tahan terhadap penyakit blas. Menurut Cecep, sebagian lahan telah ditanami varietas tersebut dan dapat dipanen sekitar 85 hingga 90 hari setelah tanam.
Penguatan kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, dan petani diharapkan membantu menekan risiko gagal panen serta menjaga produktivitas lahan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung swasembada pangan berkelanjutan di tengah tekanan perubahan iklim.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang perluasan program cetak sawah di Kampung Wanam, Papua Selatan, dibahas dukungan petani dan pemilik hak ulayat yang menilai program ini meningkatkan produksi serta pendapatan. Pemerintah juga menyiapkan tambahan lahan dan paket bantuan 2026, termasuk alsintan dan infrastruktur irigasi, dengan arah pengembangan Wanam sebagai percontohan pertanian modern.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto