Pengeluaran Gen Z Jakarta didominasi kebutuhan nonmakanan pada 2025
Biaya hidup generasi muda di Jakarta sepanjang 2025 menunjukkan tekanan yang semakin besar dari kebutuhan di luar pangan. Rata-rata pengeluaran Gen Z di ibu kota mencapai Rp 11.969.830 per bulan, dengan porsi nonmakanan melampaui belanja makanan.
Sorotan
- Rata-rata pengeluaran Gen Z di DKI Jakarta sepanjang 2025 mencapai Rp 11.969.830 per bulan, dengan 59,7 persen dihabiskan untuk kebutuhan nonmakanan.
- Pengeluaran tertinggi Gen Z terjadi di Jakarta Selatan sebesar Rp 15.168.533 per bulan, terendah di Kepulauan Seribu sebesar Rp 6.082.246 per bulan.
- Tingkat Pengangguran Terbuka usia 15-29 tahun DKI Jakarta pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen, mendorong penggunaan PayLater untuk kebutuhan sehari-hari.
Rincian pengeluaran dan kesenjangan wilayah
Seperti dilaporkan Kompas.com, data Badan Pusat Statistik, BPS, DKI Jakarta menunjukkan rata-rata pengeluaran Gen Z di Jakarta mencapai Rp 11.969.830 per bulan sepanjang 2025. Dari jumlah itu, Rp 7.142.427 dialokasikan untuk kebutuhan nonmakanan, sedangkan pengeluaran makanan tercatat Rp 4.827.403 per bulan.Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan komponen nonmakanan kini menjadi pengeluaran terbesar generasi muda di ibu kota. Ia menyebut rata-rata pengeluaran tertinggi berada di Jakarta Selatan sebesar Rp 15.168.533 per bulan, sementara yang terendah tercatat di Kepulauan Seribu sebesar Rp 6.082.246 per bulan.
Menurut BPS, kelompok pengeluaran nonmakanan mencakup biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, perlengkapan kerja, pembelian barang elektronik, serta kebutuhan penunjang aktivitas harian. Besarnya porsi ini menunjukkan biaya hidup di Jakarta semakin ditentukan oleh mobilitas, pendidikan, dan kebutuhan kerja, bukan hanya konsumsi pangan.
Tekanan pasar kerja dan penggunaan PayLater
Tekanan pengeluaran tersebut muncul ketika sebagian anak muda masih menghadapi tantangan di pasar kerja. Data BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka kelompok usia 15-29 tahun di DKI Jakarta pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen, jauh di atas kelompok usia 30-59 tahun yang sebesar 3,25 persen.Selain itu, sekitar 21,47 persen pekerja muda masih berada di sektor informal yang umumnya memiliki pendapatan lebih berfluktuasi dibandingkan pekerja formal. Kondisi ini membuat sebagian anak muda perlu mengatur arus kas lebih hati-hati ketika kebutuhan datang lebih cepat daripada pendapatan yang diterima.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menilai meningkatnya penggunaan layanan buy now pay later, BNPL, atau PayLater di kalangan anak muda terkait kombinasi tekanan ekonomi dan kemudahan akses kredit digital. Menurut dia, layanan itu kerap dipakai untuk menjembatani kebutuhan transportasi, tempat tinggal, kebutuhan kerja, hingga bantuan kepada keluarga sebelum pendapatan diterima pada periode berikutnya.
Target peluncuran layanan PayLater BTN menjadi sorotan dalam laporan kami sebelumnya, termasuk proses pengembangan produk, penyiapan model bisnis, dan pengurusan izin sebelum diintegrasikan ke aplikasi Bale by BTN. Kami juga mencatat BTN meningkatkan belanja teknologi informasi untuk mendukung strategi digital, penguatan keamanan siber, serta sistem deteksi pola transaksi guna memitigasi risiko ketika layanan kredit digital diperluas.
Berita Ak Yatırım Terbaru
- Forex
- Crypto