PayLater kian menopang belanja kebutuhan anak muda di Indonesia
Di tengah tekanan biaya hidup dan pendapatan yang belum selalu stabil, layanan PayLater makin digunakan anak muda untuk memenuhi kebutuhan belajar dan konsumsi harian. Barang yang paling sering dibeli mencakup laptop, tablet, printer, skincare, dan sepatu, terutama oleh mahasiswa serta pekerja lepas yang membutuhkan fleksibilitas arus kas.
Sorotan
- Penggunaan layanan BNPL di kalangan anak muda Indonesia meningkat sebagai penopang kebutuhan harian dan pendidikan, dengan limit Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta.
- Cicilan PayLater biasanya digunakan untuk buku kuliah, skincare, dan alat belajar; transaksi sekitar Rp 1,2 juta melahirkan cicilan Rp 430.000 per bulan.
- Meningkatnya penggunaan kredit digital memicu risiko utang konsumtif bagi pengguna berpenghasilan tidak stabil, dengan ancaman denda dan catatan kredit buruk.
Pola penggunaan untuk kebutuhan kuliah dan harian
Seperti dilaporkan Kompas.com, penggunaan buy now pay later atau BNPL di kalangan anak muda semakin bergeser dari sekadar alat pembayaran digital menjadi penyangga kebutuhan yang harus dipenuhi sebelum pendapatan bulan berikutnya diterima. Di tengah kondisi itu, layanan cicilan instan banyak dimanfaatkan untuk membeli perangkat penunjang belajar, produk perawatan diri, hingga kebutuhan pribadi lain.Salah satu pengguna adalah Dinda, 21 tahun, mahasiswi semester enam asal Jakarta Timur yang berkuliah di Depok. Ia mulai menggunakan Shopee PayLater sekitar dua tahun lalu ketika masih semester empat, setelah awalnya mengaktifkan fitur itu karena sering berbelanja di platform e-commerce tersebut.
Dinda mengatakan penggunaan PayLater bukan didorong kesulitan ekonomi keluarga, karena orangtuanya masih mampu membiayai kuliah dan kebutuhan pokok sehari-hari. Namun, ia memilih fasilitas itu agar tidak terus-menerus meminta uang tambahan saat muncul kebutuhan di luar biaya rutin.
Menurut dia, limit Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta biasanya dipakai untuk membeli buku kuliah, skincare, sepatu, tas, hingga printer kecil untuk mengerjakan tugas. Ia umumnya mencicil transaksi selama tiga bulan, dan pada penggunaan terakhir untuk nilai sekitar Rp 1,2 juta, cicilan bulanannya mencapai sekitar Rp 430.000 setelah ditambah biaya lain.
Risiko utang konsumtif dan disiplin pembayaran
Kemudahan akses kredit digital juga memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan utang konsumtif di kalangan anak muda. Risiko itu muncul ketika fleksibilitas pembayaran mendorong pembelian di luar kemampuan bayar, terutama bagi pengguna dengan penghasilan yang belum stabil.Dinda mengatakan ia berusaha membayar cicilan tepat waktu agar terhindar dari denda dan catatan kredit buruk. Ia juga bekerja sebagai freelancer desain grafis dan admin media sosial UMKM, dengan pendapatan yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus membayar cicilan.
Ia menambahkan setiap penggunaan PayLater selalu dihitung lebih dulu berdasarkan kemampuan membayar pada bulan berikutnya. Pola itu menunjukkan layanan ini dipakai bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga sebagai alat pengelolaan arus kas jangka pendek di tengah kebutuhan yang mendesak.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi BTN menahan laju ekspansi kredit, kami mengulas bagaimana bank menjaga target pertumbuhan 8%–10% sambil mengantisipasi ketatnya likuiditas dan suku bunga yang masih tinggi. Kami juga membahas fokus penyaluran pembiayaan ke program pemerintah seperti KUR Perumahan dan FLPP, serta pembatasan pada kredit korporasi berimbal hasil rendah agar kualitas aset tetap terjaga.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto