Danamon nilai pembatasan valas BI mulai memengaruhi transaksi, dampak tetap terbatas

Danamon nilai pembatasan valas BI mulai memengaruhi transaksi, dampak tetap terbatas
Pembatasan valas BI terasa

Pengetatan batas pembelian valuta asing tanpa dokumen underlying oleh Bank Indonesia mulai terasa pada aktivitas transaksi perbankan sejak aturan baru berlaku pada Juni 2026. Di Bank Danamon, pengaruhnya dinilai masih terbatas karena kebutuhan mayoritas nasabah untuk perjalanan tetap berada di bawah ambang baru yang ditetapkan regulator.

Sorotan

  • Bank Indonesia menurunkan batas pembelian valas tanpa dokumen underlying dari U.S.$25.000 menjadi U.S.$10.000 per bulan, memengaruhi transaksi bank namun dampaknya terbatas.
  • Volume transaksi valas Danamon naik 25%-30% dan dana valas mengendap tumbuh 52% secara tahunan meski aturan diperketat.
  • Bisnis foreign exchange Danamon mencatat CAGR pendapatan fee based income sekitar 35%-40% dari 2023 ke 2024, menandakan permintaan retail tetap kuat.

Dampak kebijakan pada transaksi nasabah

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, PT Bank Danamon Indonesia Tbk mengakui kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan batas pembelian valas tanpa dokumen underlying dari U.S.$25.000 menjadi U.S.$10.000 per bulan mulai memengaruhi tren transaksi bank. Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon, Ivan Jaya, mengatakan langkah itu berdampak pada aktivitas transaksi, meski efeknya relatif terbatas.

Ia menilai kebijakan tersebut tetap perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurut Ivan, secara umum transaksi pembelian valas nasabah Danamon dilakukan untuk kebutuhan perjalanan, dengan nilai rata-rata sekitar U.S.$4.000 hingga U.S.$5.000 per transaksi, sehingga masih jauh di bawah batas baru BI.

Karena itu, perseroan melihat kebutuhan transaksi ritel nasabah masih berada dalam kisaran yang wajar. Penurunan batas ini juga menjadi kebijakan ketiga kalinya sejak awal tahun dalam upaya BI menjaga stabilitas rupiah.

Pertumbuhan bisnis valas dan implikasi pendapatan

Di tengah pengetatan aturan, Danamon menyatakan tren volume transaksi valas masih menunjukkan pertumbuhan. Dibandingkan tahun lalu, volume transaksi saat ini meningkat sekitar 25% hingga 30%, sementara dana valas yang mengendap di bank naik 52% secara tahunan.

Dari sisi pendapatan, bank tetap optimistis bisnis foreign exchange dapat menopang pertumbuhan fee based income. Ivan menyebut tren penguatan bisnis ini sudah berlangsung dari 2023 ke 2024 dan berlanjut hingga sekarang, dengan CAGR sekitar 35% sampai 40% setiap tahun.

Kondisi itu menunjukkan pembatasan pembelian valas tanpa underlying belum menekan permintaan transaksi valas secara menyeluruh di Danamon. Bagi industri perbankan, situasi ini mengindikasikan pengetatan regulasi lebih berpengaruh pada transaksi bernilai besar, sementara kebutuhan ritel harian masih tetap berjalan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan rupiah di akhir perdagangan, kami membahas bagaimana pergerakan kurs dipengaruhi sentimen eksternal, terutama eskalasi konflik Timur Tengah yang menjaga harga energi tinggi. Kami juga menekankan bahwa arah rupiah tetap ditentukan kombinasi faktor global dan fundamental domestik, termasuk dampak perubahan harga minyak terhadap inflasi serta arus dana asing.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.