Dmytro Kharkov

BTN perluas pembiayaan perumahan dan layanan digital untuk dorong pertumbuhan

BTN perluas pembiayaan perumahan dan layanan digital untuk dorong pertumbuhan
BTN dorong ekosistem perumahan

Bank Tabungan Negara memperkuat transformasi bisnisnya dengan memperluas pembiayaan perumahan, membangun ekosistem hunian, dan mempercepat layanan digital pada 2026. Langkah ini diarahkan untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat dan pelaku usaha di sektor perumahan.

Sorotan

  • Penyaluran KPR BTN hingga September 2026 mencapai Rp552 triliun dengan pangsa pasar KPR subsidi 69% dan KPR keseluruhan 39%.
  • Sampai 20 Oktober 2026, realisasi plafon Kredit Program Perumahan BTN capai Rp6,16 triliun kepada 9.236 debitur, mencakup pasokan dan permintaan.
  • Pengguna aplikasi digital Bale BTN naik 62,4% yoy jadi 4,3 juta per Juni 2026, dengan nilai transaksi semester I 2026 mencapai Rp67 triliun, tumbuh 55,5%.

Strategi transformasi dan ekspansi pembiayaan

KONTAN Indonesia melaporkan, Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan perseroan telah menjalankan transformasi secara bertahap dalam satu dekade terakhir, dengan fokus pada perbaikan tata kelola, peningkatan kualitas kredit, pengembangan bisnis, dan digitalisasi operasional. Menurut dia, bank ini juga terus memperluas bisnis di luar kredit pemilikan rumah, tanpa meninggalkan mandat pembiayaan perumahan nasional.

Hingga September 2026, penyaluran KPR BTN mencapai Rp552 triliun, dengan pangsa pasar KPR subsidi sebesar 69% dan pangsa pasar KPR secara keseluruhan 39%. Sepanjang Januari hingga September 2026, BTN juga menyalurkan pembiayaan perumahan melalui kerja sama dengan kementerian dan lembaga sebanyak 35.808 unit, termasuk untuk masyarakat berpenghasilan tidak tetap.

BTN turut memperkuat penyaluran Kredit Program Perumahan, atau KPP, dari sisi pasokan dan permintaan. Dari sisi pasokan, bank ini bekerja sama dengan lebih dari 8.000 mitra pengembang dan membuka pembiayaan bagi kontraktor, pemasok, distributor, serta toko bahan bangunan, termasuk pelaku UMKM dalam rantai pasok perumahan.

Dari sisi permintaan, BTN menyasar calon debitur potensial seperti wiraswasta, merchant BTN, dan nasabah dengan riwayat kredit yang baik. Per 20 Oktober 2026, realisasi plafon KPP mencapai Rp6,16 triliun kepada 9.236 debitur, terdiri dari Rp4,02 triliun untuk sisi pasokan dan Rp2,14 triliun untuk sisi permintaan.

Dampak pada kualitas aset dan digitalisasi layanan

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah konsolidasian BTN berada di level 3% pada Juni 2026. Perseroan menyatakan tetap menjaga kualitas kredit melalui penerapan prinsip kehati-hatian dan penguatan proses perkreditan, sambil menyeimbangkan pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan risiko kredit.

Pada pengembangan digital, BTN telah mengembangkan aplikasi Bale sejak Februari 2025 sebagai platform yang mengintegrasikan layanan keuangan dan kebutuhan gaya hidup nasabah. Hingga Juni 2026, jumlah penggunanya mencapai sekitar 4,3 juta, naik 62,4% secara tahunan, sementara nilai transaksi pada semester pertama 2026 mencapai Rp67 triliun, tumbuh 55,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Layanan digital itu mencakup pembayaran, solusi pembiayaan, layanan perjalanan, tiket, voucher, dan produk terkait properti. Di sisi operasional, BTN juga memodernisasi sistem perbankan dengan teknologi artificial intelligence dan optical character recognition, serta mengembangkan sistem layanan cabang untuk meningkatkan efisiensi proses perbankan.

Pada kredit konsumer, BTN menargetkan waktu penyelesaian atau turnaround time menjadi lima hari. Target tersebut didorong melalui digitalisasi proses dan pengurangan pengulangan akibat dokumen yang tidak lengkap atau tidak sesuai.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang aturan baru rencana bisnis bank, kami membahas penerbitan POJK Nomor 17 Tahun 2026 yang memperketat penyusunan rencana bisnis agar lebih realistis, berbasis risiko, dan selaras dengan prinsip kehati-hatian serta tata kelola. Ketentuan ini juga memperkuat mekanisme pelaporan dan evaluasi melalui sistem OJK, sehingga strategi bank—termasuk transformasi digital, proyeksi keuangan, pendanaan, dan ekspansi—dituntut lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.