OJK nilai ketahanan sektor jasa keuangan terjaga di tengah tekanan global dan penguatan penegakan integritas
Di tengah konflik geopolitik, inflasi global yang tinggi, dan ekspektasi suku bunga bertahan di level tinggi hingga 2027, Otoritas Jasa Keuangan menilai sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil pada Oktober 2026. Penilaian itu datang saat pasar modal domestik menghadapi tekanan yang cukup tinggi, namun penghimpunan dana, pertumbuhan investor, dan likuiditas perdagangan masih menunjukkan ketahanan.
Sorotan
- OJK mencatat penghimpunan dana melalui penawaran umum hingga Oktober 2026 mencapai Rp209,77 triliun, terdiri dari 179 transaksi berbagai instrumen.
- Investor pasar modal domestik bertambah 1,38 juta pada Oktober 2026 sehingga jumlah investor year to date melonjak 64,75 persen menjadi 33,55 juta investor.
- Rata-rata nilai transaksi harian saham naik menjadi Rp16,31 triliun pada Oktober 2026, sementara OJK kenakan denda Rp327,70 miliar pada 790 pihak sepanjang 2026.
Kondisi pasar dan penghimpunan dana Oktober 2026
Menurut Otoritas Jasa Keuangan, mengutip siaran pers Rapat Dewan Komisioner bulanan Oktober 2026, stabilitas sektor jasa keuangan dinilai tetap terjaga meski lingkungan eksternal dibayangi kenaikan harga energi, inflasi di sejumlah negara, dan sentimen risk off di pasar keuangan global. Di dalam negeri, OJK mencatat pola konsumsi rumah tangga menjadi lebih konservatif, sementara inflasi terutama didorong harga pangan dan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 tetap positif 5,47 persen secara tahunan.Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur menguat dengan PMI manufaktur Oktober 2026 naik ke 54, tertinggi sejak Maret 2024, sementara neraca perdagangan tetap mencatat surplus. OJK juga menilai fungsi intermediasi pasar modal tetap berjalan baik meski dinamika dan tekanan pasar pada Oktober cukup tinggi.
Animo korporasi untuk menghimpun dana melalui penawaran umum hingga akhir Oktober 2026 masih kuat, dengan total nilai secara year to date mencapai Rp209,77 triliun. Nilai itu terdiri dari 7 penawaran umum saham perdana, 20 penawaran umum terbatas, 11 penawaran umum efek bersifat utang dan atau sukuk, serta 141 penawaran umum berkelanjutan efek bersifat utang dan atau sukuk.
Pada pipeline, terdapat 26 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp24,46 triliun. OJK menyatakan realisasi hingga akhir tahun masih dipengaruhi dinamika pasar, minat investor, serta pertimbangan emiten dalam menentukan momentum penerbitan dan biaya pendanaan.
Penggalangan dana melalui securities crowdfunding juga terus meningkat. Sepanjang Oktober 2026 terdapat 15 efek baru dan 6 penerbit baru dengan dana dihimpun Rp24,66 miliar, sehingga total dana yang terakumulasi melalui skema ini mencapai Rp2,09 triliun.
Dampak bagi pasar domestik dan pengawasan integritas
Basis investor pasar modal domestik terus bertambah sejalan dengan pendalaman pasar dan penguatan ekosistem digital industri. Sepanjang Oktober 2026, investor baru bertambah 1,38 juta secara bulanan, sehingga secara year to date jumlah investor naik 64,75 persen menjadi 33,55 juta investor.Likuiditas perdagangan saham juga meningkat, dengan rata-rata nilai transaksi harian pada Oktober 2026 mencapai Rp16,31 triliun, naik dari Rp14,94 triliun pada September 2026. Secara year to date, rata-rata nilai transaksi harian tercatat Rp20,34 triliun, dengan investor domestik mendominasi, terdiri dari investor ritel 47,69 persen dan institusi 16,23 persen.
Di sisi pengawasan, OJK meminta perbankan melakukan enhance due diligence dan atau pemblokiran terhadap rekening yang terindikasi terkait perjudian daring. Langkah itu ditempuh untuk mendukung pemberantasan aktivitas ilegal yang dinilai berdampak luas pada perekonomian dan sektor keuangan.
OJK juga menegaskan penguatan pengawasan dan penegakan hukum di bidang pasar modal untuk menjaga integritas pasar, meningkatkan kepatuhan, dan mempertahankan kepercayaan publik. Selama 2026, OJK telah mengenakan sanksi administratif berupa denda keterlambatan senilai Rp327,70 miliar kepada 790 pihak, serta menjatuhkan 257 sanksi peringatan tertulis.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan tajam IHSG sepanjang kuartal III-2026, kami mengulas bagaimana penurunan indeks menekan prospek bisnis perusahaan sekuritas melalui turunnya nilai dan frekuensi transaksi serta melemahnya minat investor. Kami juga menyoroti dampaknya pada penggunaan margin trading dan potensi penundaan IPO maupun penerbitan obligasi, sehingga pelaku industri didorong memperkuat diversifikasi produk, edukasi investor, dan efisiensi operasional di tengah volatilitas pasar.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto