Live streaming di BKT mencerminkan tekanan pasar kerja Indonesia
Ruang publik di Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur, kini juga dimanfaatkan warga untuk siaran langsung demi memperoleh gift virtual sebagai sumber penghasilan tambahan. Fenomena ini muncul di tengah terbatasnya lapangan kerja dan meningkatnya tekanan pada pekerja informal serta korban pemutusan hubungan kerja.
Sorotan
- CORE Indonesia mencatat 60 persen pekerja Indonesia berada di sektor informal, dengan proyeksi total PHK sepanjang 2024 bisa mencapai 80.000 orang.
- Platform digital mengambil potongan 30 hingga 50 persen dari gift virtual yang diterima kreator, sehingga margin pendapatan live streaming tetap tipis.
- Rencana perubahan pajak dari tarif final 0,5 persen ke progresif 5–30 persen berpotensi menekan pendapatan bersih kreator digital di Indonesia.
Fenomena gig economy berbiaya masuk rendah
Seperti dilaporkan Kompas.com, aktivitas live streaming di jalur sepeda BKT pada Minggu sore menunjukkan bagaimana warga memanfaatkan ruang publik bukan hanya untuk rekreasi, tetapi juga untuk mencari pemasukan dari penonton di platform digital.Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai tren berburu gift virtual perlu dibaca sebagai cerminan kondisi ketenagakerjaan yang tertekan. Menurut dia, semakin banyak masyarakat mencari alternatif pendapatan karena peluang kerja terbatas, terutama bagi lulusan baru dan pekerja yang belum memperoleh pekerjaan layak.
Dipo menyebut sekitar 60 persen pekerja di Indonesia berada di sektor informal, sementara gelombang PHK masih berlangsung. Berdasarkan angka yang diketahuinya, jumlah pekerja yang terkena PHK hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 64.000 orang, dan CORE Indonesia memproyeksikan total PHK sepanjang tahun ini bisa mencapai 80.000 orang.
Ia menggolongkan live streaming sebagai bagian dari gig economy dengan hambatan masuk yang rendah. Bermodalkan ponsel, koneksi internet, dan perangkat sederhana, warga sudah bisa mulai menyiarkan konten tanpa keahlian khusus, pendidikan tertentu, atau modal besar seperti pada banyak pekerjaan informal lain.
Ketidakpastian pendapatan dan risiko potongan platform
Daya tarik utama aktivitas ini adalah kemudahan akses dan peluang pendapatan harian, tetapi penghasilannya tidak pasti. Nilai gift virtual berbeda-beda, dari hadiah kecil seperti mawar atau kopi virtual hingga hadiah bernilai lebih tinggi, dan besaran pemasukan bergantung pada jumlah penonton, interaksi, serta kesediaan audiens memberi saweran digital.Menurut Dipo, kreator juga tidak menerima seluruh nilai gift yang terkumpul karena platform digital dapat mengambil potongan sekitar 30 hingga 50 persen, bergantung pada platform yang digunakan. Kondisi itu, menurut dia, membuat pekerjaan ini mudah dimasuki tetapi menyisakan margin pendapatan yang tipis bagi banyak pelaku.
Ia juga menyoroti rencana perubahan skema perpajakan bagi kreator digital. Selama ini sebagian kreator dapat dikenai pajak penghasilan final 0,5 persen, namun terdapat rencana peralihan ke tarif progresif sekitar 5 hingga 30 persen sesuai penghasilan kena pajak dan ketentuan yang berlaku, yang berpotensi menekan pendapatan bersih.
Dalam gambaran pasar global yang disampaikan Dipo, kreator kategori nano dengan pengikut di bawah 10.000 diperkirakan bisa memperoleh sekitar 5 hingga 40 dollar U.S. per hari. Namun, kisaran itu menegaskan bahwa live streaming lebih mencerminkan strategi bertahan di tengah sulitnya mencari kerja daripada jalur penghasilan yang stabil.
Dalam liputan kami sebelumnya tentang kasus dugaan perdagangan orang yang menimpa ABK KM Maulana 23, kami menyoroti adanya selisih besar antara upah yang dijanjikan dan bayaran yang benar-benar diterima para pekerja. Artikel tersebut juga mengulas pola perekrutan melalui media sosial yang disertai dugaan penjeratan utang serta pemotongan gaji, sekaligus mengingatkan pentingnya memeriksa kredibilitas pemberi kerja untuk mencegah eksploitasi.
Berita Income Terbaru
- Forex
- Crypto