Bank Indonesia hadapi perlambatan penjualan aset bermasalah di tengah tekanan ekonomi

Bank Indonesia hadapi perlambatan penjualan aset bermasalah di tengah tekanan ekonomi
Aset bermasalah kian terbatas

Prospek pendapatan bank dari penjualan aset bermasalah pada 2025 dinilai kian terbatas, menurut artikel KONTAN Indonesia, ketika pemulihan ekonomi belum sepenuhnya kuat dan stok aset yang bisa dilepas mulai menipis. Kondisi ini membuat recovery income tetap dipakai untuk menopang laba, tetapi tidak lagi dipandang sebagai pendorong utama kinerja industri perbankan.

Sorotan

  • BCA membukukan pertumbuhan laba bersih 4,9% dengan pendapatan penjualan aset keuangan naik 46,7% menjadi Rp 2,23 triliun pada tahun lalu.
  • Rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah BCA sebesar 183,8% per 2025 dinilai memadai untuk mengantisipasi risiko, sementara CIMB Niaga fokus ke fee based income.
  • Pendapatan recovery CIMB Niaga turun 29,4% menjadi Rp 1,02 triliun, menandakan industri perbankan nasional harus perkuat pendapatan berulang di tengah tekanan ekonomi.

Tekanan laba 2025 dan ruang recovery income

Banyak bank masih memakai penjualan aset bermasalah untuk membantu menjaga profitabilitas di tengah perlambatan kinerja keuangan. Trioksa Siahaan, Senior Vice President LPPI, mengatakan strategi ini masih digunakan pada tahun ini, namun prospeknya melambat karena stok aset bermasalah makin terbatas dan kondisi ekonomi belum kondusif. Ia menilai aset seperti itu juga cenderung harus ditawarkan dengan harga diskon, sehingga kontribusinya terhadap laba menjadi lebih sempit.Pada tahun lalu, sejumlah bank besar masih mencatat dukungan nyata dari pos tersebut. BCA membukukan laba bersih tumbuh 4,9% secara tahunan, dengan pendapatan dari penjualan aset keuangan mencapai Rp 2,23 triliun, naik 46,7%. Bank Mandiri juga mencatat kenaikan laba bersih 0,92% secara tahunan, ditopang pendapatan recovery Rp 7,28 triliun, atau meningkat 15% dari tahun sebelumnya.

Strategi bank besar menjaga kualitas pendapatan

BCA menyatakan penyelesaian aset bermasalah berjalan sesuai target dan timeline, menurut Hera F. Haryn selaku EVP Corporate Communication & Social Responsibility. Bank itu menegaskan seluruh proses penjualan mengikuti ketentuan yang berlaku, sambil tetap berhati-hati dalam mengelola non performing loan agar kualitas kredit terjaga. Hingga 2025, rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah BCA tercatat 183,8%, yang dinilai memadai untuk mengantisipasi potensi risiko ke depan.Di CIMB Niaga, kontribusi penjualan aset bermasalah disebut sangat bergantung pada ketersediaan portofolio. Presiden Direktur Lani Darmawan mengatakan jumlah aset bermasalah di bank itu saat ini relatif terbatas, sehingga ruang untuk mendorong recovery income tidak besar. Sebagai gantinya, CIMB Niaga lebih memfokuskan penguatan pendapatan non-bunga melalui fee based income di tengah permintaan kredit yang masih lemah.

Dampak bagi sektor perbankan nasional

Perlambatan penjualan aset bermasalah mengindikasikan bank perlu semakin mengandalkan sumber pendapatan yang lebih berulang, termasuk pertumbuhan kredit yang sehat dan pendapatan berbasis komisi. Bagi industri, perubahan ini juga mencerminkan bahwa recovery income makin sulit dijadikan bantalan utama saat tekanan ekonomi menahan ekspansi usaha. Sepanjang tahun lalu, CIMB Niaga mencatat pendapatan recovery Rp 1,02 triliun, turun 29,4% secara tahunan, meski laba bersihnya masih tumbuh tipis 0,53% menjadi Rp 6,93 triliun.

Kami sebelumnya melaporkan bahwa bank-bank besar diperkirakan semakin sulit mengandalkan recovery income dari penjualan aset bermasalah untuk menopang laba, karena stok portofolio kian terbatas dan penjualan berpotensi dilakukan dengan diskon. Dalam laporan itu, bank seperti BCA, Bank Mandiri, dan CIMB Niaga disorot mulai menggeser fokus ke sumber pendapatan yang lebih berulang, termasuk fee based income, efisiensi biaya, serta penguatan pengelolaan kualitas aset di tengah permintaan kredit yang masih lemah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.