Bank Mandiri perluas fitur QR antar negara ke Korea Selatan

Bank Mandiri perluas fitur QR antar negara ke Korea Selatan
QR Mandiri kini di Korea

Dalam keterangan resmi yang disampaikan Rabu (8/4), Bank Mandiri menyatakan fitur QR Antar Negara pada aplikasi Livin’ by Mandiri kini dapat dipakai di Korea Selatan, sejalan dengan inisiatif Bank Indonesia untuk memperluas interkoneksi pembayaran digital lintas negara. Langkah ini menambah cakupan layanan yang sebelumnya sudah tersedia di Malaysia, Singapura, Thailand, dan Jepang. Melalui fitur tersebut, nasabah dapat bertransaksi di merchant berlogo SeoulPay secara real-time tanpa perlu menukar uang tunai.

Sorotan

  • Bank Mandiri memperluas fitur QR Antar Negara ke Korea Selatan, memungkinkan nasabah membayar lewat QRIS dan mengakses rekening multicurrency KRW untuk transaksi lebih mudah.
  • Hingga Februari 2026, Livin’ by Mandiri mencatat 38,5 juta pengguna dan transaksi Rp802 triliun, dengan nilai QR Bayar tumbuh 43% menjadi Rp38,9 triliun dan QR Antar Negara naik 52% menjadi Rp37,4 miliar year on year.
  • Ekspansi ke Korea Selatan memperkuat posisi Bank Mandiri di sektor pembayaran digital regional, mengurangi friksi pembayaran lintas batas serta mendukung sistem pembayaran regional yang terintegrasi.

Ekspansi layanan pembayaran digital lintas negara

Bank Mandiri menyebut penambahan Korea Selatan mencerminkan penguatan konektivitas sistem pembayaran global yang terintegrasi antara industri keuangan dan regulator. Menurut SVP Digital Retail Banking Group Bank Mandiri Yanto Masyap, layanan ini ditujukan untuk memudahkan transaksi nasabah Indonesia di berbagai destinasi internasional. Pengguna cukup memindai kode QR merchant dengan standar QRIS untuk menyelesaikan pembayaran harian seperti kuliner dan belanja secara lebih praktis, aman, dan efisien.

Selain fungsi pembayaran, Livin’ by Mandiri juga menyediakan pilihan sumber dana dari rekening tabungan hingga kartu kredit Mandiri. Bank ini turut melengkapi layanan dengan pembukaan rekening multicurrency dalam won Korea Selatan, atau KRW, yang dapat dihubungkan ke Mandiri Debit. Dengan fasilitas tersebut, nasabah juga dapat melakukan tarik tunai di ATM berlogo Visa di seluruh Korea Selatan tanpa konversi kurs.

Kinerja Livin’ dan pertumbuhan transaksi QRIS

Hingga Februari 2026, Livin’ by Mandiri mencatat lebih dari 38,5 juta pengguna dengan total nilai transaksi mencapai Rp802 triliun. Adopsi QRIS juga terus meningkat, terlihat dari jumlah pengguna fitur QR Bayar yang mencapai 9,2 juta, naik 23% secara tahunan. Nilai transaksi QR Bayar tumbuh 43% menjadi Rp38,9 triliun, menunjukkan penggunaan pembayaran digital yang makin luas di ekosistem Bank Mandiri.

Pada layanan QR Antar Negara, jumlah pengguna meningkat 23% year on year menjadi 13 ribu. Nilai transaksinya melonjak 52% year on year hingga Rp37,4 miliar, mencerminkan naiknya kebutuhan atas solusi pembayaran lintas negara yang terintegrasi. Bank Mandiri menyatakan akan terus memperluas jangkauan QR Antar Negara ke destinasi internasional lain sebagai bagian dari strategi mendukung akselerasi ekonomi digital nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Dampak bagi nasabah dan ekosistem regional

Ekspansi ke Korea Selatan memperluas utilitas QRIS bagi masyarakat Indonesia yang bepergian ke salah satu tujuan utama wisata dan belanja di Asia. Bagi nasabah, layanan ini berpotensi menekan friksi transaksi karena pembayaran dapat dilakukan langsung melalui aplikasi yang sudah digunakan di dalam negeri. Bagi sektor perbankan, langkah tersebut memperkuat posisi layanan digital sebagai pendorong pertumbuhan transaksi ritel lintas batas.

Dari sisi industri, perluasan akseptasi QR antar negara mendukung agenda regulator untuk membangun sistem pembayaran yang makin terkoneksi secara regional. Kehadiran opsi pembayaran dan rekening multicurrency juga menambah nilai bagi nasabah yang membutuhkan pengelolaan dana lebih fleksibel selama di luar negeri. Dalam konteks yang lebih luas, penguatan kanal pembayaran ini mendukung daya saing ekonomi digital Indonesia di pasar regional.

Sebelumnya, kami melaporkan penguatan saham-saham bank berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia, termasuk BMRI, yang terjadi setelah tekanan beberapa pekan sebelumnya. Dalam laporan tersebut, pergerakan rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS dan arus dana asing disebut sebagai faktor kunci yang membuat investor lebih berhati-hati, di tengah sentimen geopolitik serta isu makro yang masih membayangi sektor perbankan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.