Piutang multifinance Indonesia capai Rp 512 triliun, pembiayaan multiguna tetap dominan
Dalam jawaban tertulis RDK OJK yang dikutip dari data per Februari 2026, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan pembiayaan multiguna masih menjadi penopang utama industri multifinance di Indonesia. Porsi segmen ini mencapai 50,22% dari total pembiayaan industri, di tengah pertumbuhan piutang pembiayaan perusahaan multifinance menjadi Rp 512,14 triliun secara tahunan. Pernyataan itu juga menunjukkan kualitas pembiayaan tetap menjadi perhatian karena rasio NPF gross naik dibandingkan bulan sebelumnya.
Sorotan
- Total piutang pembiayaan perusahaan multifinance Indonesia mencapai Rp 512,14 triliun per Februari 2026, naik 1,01% year on year.
- Pembiayaan multiguna tetap dominan sebesar Rp 257,17 triliun, tumbuh 1,28% year on year, sementara Non Performing Financing gross meningkat menjadi 2,78%.
- OJK menekankan pentingnya diversifikasi pembiayaan guna memperluas basis pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu segmen pertumbuhan.
Komposisi pembiayaan per Februari 2026
Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, mengatakan pembiayaan multiguna tumbuh 1,28% secara year on year menjadi Rp 257,17 triliun per Februari 2026. Nilai tersebut menjadikan multiguna sebagai kontributor terbesar dalam portofolio pembiayaan industri. Dominasi itu memperlihatkan permintaan pada pembiayaan konsumtif serbaguna masih menopang bisnis perusahaan multifinance.
Pembiayaan investasi menjadi penopang terbesar kedua dengan porsi 32,79% atau senilai Rp 167,92 triliun. Namun, segmen ini terkontraksi 2,89% secara tahunan. Adapun pembiayaan modal kerja mengambil porsi 10,67% dengan nilai Rp 54,63 triliun, atau tumbuh 8,31% secara year on year.
Dampak pada kinerja industri dan risiko
Berdasarkan catatan OJK, total piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp 512,14 triliun per Februari 2026, naik 1,01% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini menunjukkan industri masih bertumbuh, meski lajunya relatif terbatas. Struktur pembiayaan yang bertumpu pada multiguna juga menandakan sumber pertumbuhan masih terkonsentrasi pada segmen tertentu.
Di sisi risiko, tingkat Non Performing Financing gross perusahaan pembiayaan tercatat 2,78% per Februari 2026. Angka ini memburuk dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 2,72%. Kenaikan rasio pembiayaan bermasalah itu menunjukkan pelaku industri tetap perlu menjaga selektivitas debitur sambil mempertahankan pertumbuhan pembiayaan.
Prospek diversifikasi bisnis multifinance
Agusman memproyeksikan pembiayaan multiguna masih menjadi penopang utama pertumbuhan industri multifinance ke depan. Pada saat yang sama, ia menyatakan peluang bisnis baru di industri ini terus berkembang. Menurut OJK, ruang pertumbuhan tersebut dapat didorong melalui diversifikasi pembiayaan sepanjang tetap sejalan dengan ketentuan yang berlaku.
Bagi industri jasa keuangan Indonesia, arah ini berarti perusahaan multifinance tidak hanya mengandalkan satu sumber pertumbuhan jangka panjang. Diversifikasi dapat membantu memperluas basis pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada segmen yang dominan. Namun, pengembangan bisnis baru tetap bergantung pada kualitas aset, permintaan pasar, dan kepatuhan terhadap regulasi OJK.
Kami sebelumnya melaporkan prospek pertumbuhan pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan sepanjang 2026, yang ditopang perkembangan ekosistem digital dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan fleksibel. Dalam laporan tersebut, OJK mencatat penyaluran BNPL mencapai Rp 12,59 triliun per Februari 2026 dengan pertumbuhan tahunan 53,53%, sementara NPF gross naik tipis menjadi 2,79% sehingga aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen tetap ditekankan.
Berita Fintech Terbaru
- Forex
- Crypto