BSI genjot digitalisasi ESG, transaksi BYOND capai Rp820 triliun

BSI genjot digitalisasi ESG, transaksi BYOND capai Rp820 triliun
BSI pacu transaksi digital

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk menyatakan transformasi digital berbasis ESG menjadi pendorong utama pertumbuhan layanan syariah, dengan data Desember 2025 menunjukkan transaksi di superapps BYOND mencapai 730 juta atau naik 52% secara tahunan, bernilai Rp820 triliun. Dalam siaran pers yang dikutip pada Minggu, perseroan juga menyebut jumlah nasabah telah melampaui 23 juta, sementara pengguna mobile banking menembus lebih dari 9 juta. Arah ini memperlihatkan fokus bank pada perluasan inklusi keuangan syariah melalui kanal digital.

Sorotan

  • Transaksi BYOND BSI mencapai Rp820 triliun setahun setelah peluncuran, didukung lonjakan 197% jumlah pengguna aplikasi secara tahunan.
  • Pembukaan tabungan haji via BYOND naik 108% menjadi 380.000 nasabah, dengan ekosistem layanan syariah digital diperluas ke fitur sosial dan generasi muda.
  • BSI mengukur emisi karbon Scope 1 sebesar 19.374,40 tCO2eq dan Scope 2 sebesar 70.356,55 tCO2eq, serta membangun 70 reverse vending machine dan 11 panel surya.

Pertumbuhan BYOND dan perluasan layanan syariah digital

Superapps BYOND menjadi salah satu penopang utama akselerasi digital BSI dalam setahun sejak diluncurkan. Jumlah pengguna aplikasi ini melonjak 197% secara tahunan, ditopang integrasi fitur transaksi dan layanan berbasis kebutuhan nasabah. Fitur yang tersedia mencakup tabungan emas mulai sekitar Rp50.000, cicil emas, transfer emas berbasis gram, serta pembukaan tabungan haji digital dengan setoran awal Rp100.000.

Perseroan juga mencatat pembukaan tabungan haji melalui BYOND meningkat 108% secara tahunan menjadi 380.000 nasabah. Selain layanan finansial, aplikasi ini menghadirkan fitur sosial seperti pembayaran zakat, infak, sedekah, dan wakaf, informasi lokasi masjid, serta arah kiblat. Kombinasi layanan tersebut memperkuat ekosistem perbankan syariah digital yang menyasar generasi muda dan milenial.

Wakil Direktur Utama BSI Bob T. Ananta mengatakan transformasi digital menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat kepercayaan nasabah. Menurut dia, penguatan tata kelola melalui transparansi dan kemudahan akses informasi transaksi mendorong masyarakat beralih ke layanan perbankan syariah yang lebih mudah, aman, dan kompetitif. Ia menambahkan digitalisasi BSI berfokus bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada relevansi solusi keuangan syariah sesuai kebutuhan masyarakat dengan tetap mengedepankan prinsip ESG.

Inisiatif keberlanjutan menopang strategi bisnis

Dalam aspek lingkungan, BSI mencatat pengukuran emisi karbon dengan Scope 1 sebesar 19.374,40 tCO2eq dan Scope 2 sebesar 70.356,55 tCO2eq. Perseroan juga telah membangun 70 unit reverse vending machine, 13 stasiun pengisian kendaraan listrik, dan 11 instalasi panel surya di kantor operasional. Langkah ini menunjukkan digitalisasi perusahaan berjalan beriringan dengan agenda efisiensi dan pengelolaan dampak lingkungan.

Dari sisi sosial, bank terus memperkuat optimalisasi penyaluran zakat serta berbagai program pemberdayaan masyarakat. Upaya tersebut diposisikan sebagai bagian dari kontribusi terhadap kesejahteraan umat dan perluasan inklusi keuangan syariah di Indonesia. Pendekatan ini menempatkan ESG bukan hanya sebagai kerangka kepatuhan, tetapi juga sebagai elemen pengembangan bisnis.

Atas inisiatif itu, BSI meraih penghargaan The Most Innovative Digitalization of Sharia Bank 2026 for Embedding ESG Principles Into Sharia Digital Banking Ecosystem. Ke depan, perseroan menargetkan penguatan kapabilitas digital dan perluasan ekosistem layanan untuk mendorong pertumbuhan transaksi secara berkelanjutan. Strategi tersebut juga diarahkan untuk memperluas basis nasabah dan memperdalam penetrasi perbankan syariah nasional.

Kami sebelumnya melaporkan pertumbuhan penyaluran pinjaman fintech P2P lending syariah yang mencapai Rp1,84 triliun per Februari 2026, naik 67,27% secara tahunan. Laporan itu juga menyoroti outstanding P2P lending nasional yang mencapai Rp100,69 triliun serta kenaikan rasio TWP90 ke 4,54% yang mendorong perhatian pada penguatan manajemen risiko dan perlindungan konsumen. Konteks ini menunjukkan ekspansi layanan keuangan syariah digital berjalan beriringan dengan kebutuhan peningkatan tata kelola di industri.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.