Kementerian Pertanian percepat rehabilitasi sawah di Sumatera Barat

Kementerian Pertanian percepat rehabilitasi sawah di Sumatera Barat
Rehabilitasi sawah dipercepat

Kementerian Pertanian menyatakan rehabilitasi sawah terdampak bencana di Sumatera Barat masih berjalan lambat, menurut pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meninjau Desa Lubuk Alung di Kabupaten Padang Pariaman. Dalam kunjungan itu, ia menekankan anggaran pemulihan sudah tersedia sejak Januari di tingkat provinsi, namun pelaksanaan di lapangan belum optimal karena kendala birokrasi dan koordinasi. Pemerintah pusat, katanya, sudah lebih dulu menyalurkan bantuan untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak.

Sorotan

  • Pemerintah pusat menargetkan rehabilitasi 7.000 hektare sawah rusak di Sumatera Barat selesai dalam waktu satu bulan.
  • Kementerian Pertanian mengalokasikan bantuan Rp455 miliar untuk Sumatera Barat, mencakup seluruh biaya rehabilitasi lahan sawah terdampak.
  • Lambatnya eksekusi rehabilitasi berisiko menghambat pemulihan produksi pertanian dan pasokan pangan di Sumatera Barat.

Target rehabilitasi dan dukungan anggaran

Pemerintah pusat menempatkan pemulihan lahan pertanian terdampak sebagai pekerjaan yang harus segera diselesaikan di daerah. Amran meminta pemerintah provinsi dan kabupaten memperkuat kolaborasi agar rehabilitasi dapat dituntaskan dalam waktu sekitar satu bulan. Ia menyatakan perlambatan di lapangan tidak sejalan dengan kesiapan anggaran yang sudah disediakan sejak awal tahun.

Untuk sawah rusak seluas sekitar 7.000 hektare di Sumatera Barat, seluruh biaya rehabilitasi menjadi tanggung jawab pemerintah. Kementerian Pertanian juga menyebut nilai bantuan untuk Sumatera Barat mencapai Rp455 miliar. Menurut Amran, besarnya dukungan itu seharusnya menghilangkan alasan bagi keterlambatan pelaksanaan pemulihan.

Dampak bagi sektor pertanian daerah

Lambatnya rehabilitasi berisiko menahan pemulihan produksi pertanian di wilayah yang terdampak bencana. Jika perbaikan sawah segera berjalan, daerah dapat lebih cepat mengembalikan aktivitas tanam dan menjaga kesinambungan pasokan pangan. Karena itu, percepatan eksekusi di tingkat daerah menjadi faktor penting bagi pemulihan ekonomi pertanian di Sumatera Barat.

Kunjungan lapangan menteri juga menunjukkan pemerintah pusat sedang menekan agar bantuan yang sudah dialokasikan segera berubah menjadi hasil fisik di area terdampak. Fokusnya bukan hanya pada penyaluran anggaran, tetapi juga pada penyelesaian hambatan administratif dan koordinasi antarpemerintahan. Dengan langkah itu, pemulihan lahan sawah diharapkan dapat berlangsung lebih efektif dan memberi kepastian bagi petani setempat.

Kami sebelumnya melaporkan tentang dorongan hilirisasi gambir di Sumatera Barat yang disiapkan Kementerian Pertanian melalui tahapan bertahap sejak 2026, termasuk rencana ekspor perdana dan penguatan rantai pasok lewat kolaborasi BUMN serta koperasi desa. Laporan itu juga menyoroti pengembangan produk turunan seperti katekin dan tanin untuk pasar premium, serta target pemangkasan jalur distribusi agar harga lebih adil dan pendapatan petani meningkat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.