Bank Indonesia tingkatkan penempatan dana di SBN saat permintaan kredit masih lemah
Likuiditas perbankan yang berlebih masih mendorong kenaikan penempatan dana pada Surat Berharga Negara sepanjang awal 2026 di tengah pemulihan kredit yang belum merata. Hingga 16 April 2026, kepemilikan bank pada SBN mencapai Rp 1.320,56 triliun, naik 10,38% secara tahunan ketika pertumbuhan kredit per Februari berada di 9,37% YoY.
Sorotan
- BCA, BNI, dan Mandiri mencatat kenaikan penempatan dana di surat berharga antara 16,62% hingga 25,21% YoY pada Februari 2026, sementara pertumbuhan kredit masih lebih rendah.
- KB Bank menaikkan penempatan dana di SBN 0,22% YoY menjadi Rp 19,29 triliun di tengah pasar global yang volatil, namun kredit turun 3,13% menjadi Rp 41,75 triliun.
- Tren perbankan menempatkan dana di SBN diperkirakan berlanjut karena permintaan kredit belum pulih dan imbal hasil SBN masih kompetitif, menandakan fungsi intermediasi belum optimal.
Dampak pada strategi bank dan penyaluran kredit
Sejumlah bank besar mencatat kenaikan portofolio surat berharga mereka pada Februari 2026. BCA membukukan penempatan dana di surat berharga sebesar Rp 444,84 triliun, naik 17,25% YoY, sementara kredit tumbuh 5,84% menjadi Rp 953,22 triliun.BNI mencatat penempatan dana di surat berharga naik 25,21% YoY menjadi Rp 192,93 triliun, dengan kredit tumbuh 18,90% menjadi Rp 882 triliun. Bank Mandiri juga membukukan kenaikan penempatan di SBN sebesar 16,62% YoY menjadi Rp 295,58 triliun, sedangkan penyaluran kreditnya tumbuh 15,71% menjadi Rp 1.513 triliun.
BCA menyatakan penempatan dana pada surat berharga menjadi bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara likuiditas dan ekspansi kredit. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan komposisi terbesar penempatan tersebut berada pada obligasi pemerintah, disertai instrumen lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
KB Bank juga menyebut porsi penempatan dana di SBN masih relatif tinggi untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar global. Pada Februari 2026, penempatan KB Bank di SBN naik 0,22% YoY menjadi Rp 19,29 triliun, sementara kredit turun 3,13% YoY menjadi Rp 41,75 triliun.
CIMB Niaga menilai penempatan dana di SBN masih stabil karena likuiditas tetap ample dan permintaan kredit pada segmen ritel maupun korporasi belum sepenuhnya pulih. Penempatan dana CIMB Niaga di surat berharga turun 1,96% menjadi Rp 78,04 triliun, sedangkan kredit tumbuh 6,67% menjadi Rp 168 triliun.
Implikasi bagi intermediasi perbankan
Tren ini menunjukkan perbankan masih menyeimbangkan kebutuhan menjaga profitabilitas, likuiditas, dan kualitas aset ketika permintaan kredit belum cukup kuat untuk menyerap dana yang tersedia. Selama pemerintah masih aktif menerbitkan SBN dengan imbal hasil kompetitif dan risiko kredit tetap tinggi pada sejumlah segmen, penempatan dana bank pada instrumen negara berpotensi tetap tinggi dalam waktu dekat.Kondisi tersebut juga menandakan fungsi intermediasi perbankan belum sepenuhnya pulih ke tingkat yang lebih optimal. Koordinasi antara perbankan dan pemerintah dinilai penting agar likuiditas yang besar dapat lebih efektif mendorong penyaluran kredit dan pertumbuhan ekonomi.
Pergerakan saham bank-bank besar di Bursa Efek Indonesia sempat kami ulas saat mayoritas big banks dibuka menguat, dengan BBCA memimpin kenaikan sementara BBNI masih melemah. Dalam ulasan tersebut, kami juga menyoroti bagaimana ketahanan perbankan terhadap tekanan rupiah dan prospek BI Rate yang cenderung stabil dinilai dapat membantu meredakan tekanan margin serta menjadi katalis bagi profitabilitas dan pertumbuhan kredit ke depan.
- Forex
- Crypto