DPR menilai pelemahan rupiah menambah risiko inflasi dan daya beli

DPR menilai pelemahan rupiah menambah risiko inflasi dan daya beli
Rupiah lemah, inflasi naik

Tekanan kurs rupiah terhadap dolar U.S. memicu kekhawatiran baru atas kenaikan harga barang impor dan biaya produksi di dalam negeri. Kondisi ini dinilai dapat memperlemah daya beli masyarakat, terutama jika harga kebutuhan pokok naik saat pendapatan rumah tangga tidak bergerak.

Sorotan

  • DPR memperingatkan pelemahan rupiah di Rp 17.140 per dolar U.S. per 21 April 2026 menambah risiko inflasi dan tekanan daya beli masyarakat.
  • Bank Indonesia menyatakan rupiah undervalued, melemah 0,87 persen sejak akhir Maret 2026 akibat tekanan global seperti perang di Iran dan penguatan dolar U.S.
  • Pemerintah didesak memperkuat operasi pasar, distribusi bahan pokok, bantuan sosial, serta akses pembiayaan UMKM untuk mengendalikan inflasi dan melindungi kelompok rentan.

Peringatan DPR dan langkah antisipasi

Seperti diberitakan Kompas.com, anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas meminta pemerintah mewaspadai pelemahan rupiah yang sedang terjadi karena berisiko menekan konsumsi rumah tangga. Dalam keterangan tertulis pada Jumat, 24 April 2026, ia menyebut kondisi kurs saat ini sebagai alarm bagi pemerintah karena kenaikan harga barang impor dan biaya produksi dapat segera menjalar ke harga di tingkat konsumen.

Bertu mengatakan beban biaya yang meningkat berpotensi dialihkan produsen kepada pembeli akhir, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat tergerus jika tidak ada mitigasi cepat. Ia juga memperingatkan risiko ketidakstabilan sosial ekonomi akan melebar tanpa intervensi untuk menjaga harga kebutuhan pokok tetap terkendali.

Menurut dia, pemerintah perlu menyiapkan penguatan operasi pasar dan distribusi bahan pokok, menyalurkan bantuan sosial secara tepat sasaran, serta mempermudah akses pembiayaan dan insentif bagi UMKM. Ia menilai pengendalian inflasi menjadi kunci agar pasokan tetap aman dan harga tidak semakin membebani kelompok berpenghasilan rendah.

Posisi rupiah dan respons Bank Indonesia

Di sisi lain, Bank Indonesia menyatakan rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya, atau undervalued. Berdasarkan data BI, kurs rupiah berada di Rp 17.140 per dolar U.S. pada 21 April 2026, melemah 0,87 persen dibandingkan posisi akhir Maret 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan secara fundamental rupiah seharusnya dapat bergerak lebih kuat karena kinerja ekonomi domestik tetap solid. Namun tekanan global masih memengaruhi nilai tukar, termasuk dampak perang di Iran, kenaikan harga minyak, penguatan dolar U.S., dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Untuk menjaga stabilitas, BI terus melakukan intervensi di pasar valas melalui transaksi spot, DNDF, dan pasar offshore non-deliverable forward. Bank sentral juga menjaga kecukupan cadangan devisa serta meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik untuk menarik aliran modal asing, sambil mempertahankan fokus kebijakan moneter pada stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang ketegangan di sekitar Selat Hormuz, kami menyoroti bagaimana lonjakan harga minyak dapat menekan perekonomian Indonesia lewat neraca eksternal, kurs rupiah, fiskal, dan inflasi. Ulasan itu juga menekankan risiko meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi yang berpotensi memperlemah rupiah serta membatasi ruang stabilisasi pasar, sehingga kebijakan intervensi dan suku bunga bisa ikut terpengaruh.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.