Pertamina Patra Niaga naikkan harga LPG nonsubsidi 12 kg dan 5,5 kg di berbagai provinsi
Penyesuaian harga LPG nonsubsidi berlaku di banyak wilayah Indonesia setelah Pertamina Patra Niaga menaikkan tarif produk 12 kg mulai 18 April 2026. Kenaikan ini membuat harga tabung 12 kg berada pada kisaran Rp208 ribu hingga Rp285 ribu, sementara tabung 5,5 kg per 25 April dibanderol Rp100 ribu hingga Rp134 ribu.
Sorotan
- Pertamina Patra Niaga menaikkan harga LPG nonsubsidi 12 kg menjadi Rp228 ribu di Jawa dan Bali, serta Rp230 ribu di sebagian Sumatera sejak April.
- Harga LPG nonsubsidi 12 kg tertinggi kini mencapai Rp285 ribu per tabung, sementara harga 5,5 kg berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp134 ribu per 25 April.
- Penyesuaian harga antarprovinsi menegaskan beban logistik dan distribusi berbeda, sehingga kenaikan berpotensi menambah biaya rumah tangga dan usaha kecil.
Rincian penyesuaian harga per wilayah
Okezone Economy Indonesia melaporkan Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG nonsubsidi, dengan harga terendah tabung 12 kg sebesar Rp208 ribu yang berlaku di kawasan Free Trade Zone Batam.
Untuk mayoritas wilayah, harga LPG nonsubsidi 12 kg disesuaikan menjadi Rp228 ribu. Tarif ini berlaku di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Sementara itu, harga Rp230 ribu berlaku di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung. Dalam ringkasan harga terbaru, kisaran nasional untuk tabung 12 kg disebut mencapai Rp285 ribu per tabung sebagai level tertinggi.
Dampak bagi konsumen dan distribusi nasional
Untuk produk LPG nonsubsidi 5,5 kg, harga per 25 April berada pada kisaran Rp100 ribu hingga Rp134 ribu. Perbedaan harga antarprovinsi menunjukkan penyesuaian tetap mengikuti wilayah distribusi dan karakteristik pasar setempat.Kenaikan harga ini berpotensi menambah beban belanja rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang menggunakan LPG nonsubsidi. Di sisi lain, variasi harga di sejumlah daerah menegaskan bahwa pasar energi rumah tangga masih dipengaruhi biaya logistik dan cakupan distribusi di masing-masing provinsi.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang dampak ketegangan di Selat Hormuz terhadap ekonomi Indonesia, kami menyoroti bagaimana lonjakan harga minyak dapat menekan neraca eksternal, melemahkan rupiah, serta meningkatkan risiko inflasi dan beban fiskal. Kami juga membahas rencana pembentukan BLU khusus untuk impor minyak mentah agar pengadaan dan pembiayaan impor lebih fleksibel, sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah kebutuhan pasokan domestik.
Berita Natural Gas Terbaru
- Forex
- Crypto