Pemerintah Indonesia siapkan panda bond China saat tekan kekhawatiran pasar atas rupiah
Pemerintah Indonesia menegaskan likuiditas fiskal tetap kuat di tengah pelemahan rupiah dan kekhawatiran investor terhadap pasar keuangan domestik. Otoritas juga menyiapkan penerbitan panda bond di China dengan bunga lebih rendah untuk mengurangi ketergantungan pada pendanaan berbasis dolar U.S.
Sorotan
- Pemerintah Indonesia akan menerbitkan panda bond di China untuk memperkuat rupiah dan mengurangi ketergantungan pada dolar U.S.
- Menteri Keuangan Purbaya menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026, namun capital outflow terjadi akibat minimnya apresiasi akselerasi ekonomi oleh pasar.
- Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia kuat dengan inflasi rendah, pertumbuhan kredit tinggi, dan cadangan devisa kokoh meski rupiah sempat melemah ke Rp 17.424 per dolar U.S.
Langkah pemerintah menopang rupiah
Seperti diberitakan Kompas.com, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Presiden Prabowo Subianto meminta dirinya menyampaikan bahwa dana pemerintah mencukupi sehingga masyarakat tidak perlu takut. Dalam jumpa pers di Istana Jakarta pada Selasa malam, 5 Mei 2026, Purbaya juga menyatakan pemerintah akan menerbitkan bond di China melalui skema panda bond untuk membantu memperkuat nilai tukar rupiah.Purbaya mengatakan instrumen itu diharapkan memberi biaya bunga yang lebih rendah sekaligus memperluas diversifikasi pembiayaan. Dengan langkah tersebut, Indonesia dinilai bisa mengurangi ketergantungan yang terlalu besar terhadap dolar U.S. dalam pengelolaan pendanaan.
Ia menambahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen. Menurutnya, sebagian pelaku pasar belum menyadari akselerasi tersebut, sehingga muncul rasa takut yang mendorong arus keluar dari pasar modal.
Fundamental ekonomi jadi dasar optimisme
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued, namun ke depan diyakini akan stabil dan menguat. Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo yang juga membahas arah kebijakan nilai tukar.Menurut Perry, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, inflasi rendah, pertumbuhan kredit yang tinggi, dan cadangan devisa yang kuat. Kombinasi indikator tersebut, kata dia, menunjukkan rupiah semestinya bergerak stabil dan cenderung menguat, meski sempat melemah ke Rp 17.424 per dolar U.S.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan rupiah ke level Rp 17.424 per dolar AS, kami mengulas pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Bank Indonesia yang menilai pelemahan rupiah belum mencerminkan fundamental domestik yang tetap kuat. Bank sentral menyebut rupiah berada dalam kondisi undervalued dan diproyeksikan stabil serta menguat, sementara tekanan jangka pendek terutama dipicu faktor global (harga minyak, suku bunga AS, penguatan dolar, arus keluar modal) dan faktor musiman seperti repatriasi dividen, pembayaran utang, serta kebutuhan haji.
Berita Government Terbaru
- Forex
- Crypto