Jakarta catat penurunan tipis pengangguran, tekanan pasar kerja masih berlanjut

Jakarta catat penurunan tipis pengangguran, tekanan pasar kerja masih berlanjut
Pengangguran Jakarta turun tipis

Pasar tenaga kerja Jakarta pada Februari 2026 menunjukkan perbaikan terbatas, meski jumlah warga yang belum bekerja masih mencapai ratusan ribu orang. Penurunan tingkat pengangguran berlangsung tipis di tengah kenaikan angkatan kerja, sehingga tekanan sosial dan ekonomi belum benar-benar mereda.

Sorotan

  • Jumlah pengangguran di Jakarta turun menjadi 334.000 pada Februari 2026 dari 338.000 tahun sebelumnya, setara penurunan 4,54 ribu orang.
  • Tingkat Pengangguran Terbuka menurun tipis dari 6,18 persen menjadi 6,03 persen, meski jumlah angkatan kerja naik 57,64 ribu menjadi 5,53 juta.
  • Tingkat pengangguran lulusan SMA umum tercatat tertinggi di 7,58 persen, menyoroti tantangan pasar kerja bagi kelompok berpendidikan menengah.

Data Februari 2026 dan pergeseran pasar kerja

Seperti dilaporkan Antara, Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat jumlah pengangguran di Jakarta pada Februari 2026 sebanyak 334.000 orang, turun dari 338.000 orang pada Februari 2025. Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan penurunan itu setara sekitar 4,54 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari total 5,53 juta angkatan kerja, sekitar enam dari 100 orang masih menganggur. Tingkat Pengangguran Terbuka Jakarta turun tipis dari 6,18 persen menjadi 6,03 persen, menunjukkan perbaikan yang belum mengubah gambaran besar pasar kerja ibu kota.

Di saat yang sama, jumlah angkatan kerja justru naik menjadi 5,53 juta orang, bertambah 57,64 ribu dibanding tahun sebelumnya. Dari total tersebut, 5,2 juta orang telah bekerja, sementara peningkatan penyerapan tenaga kerja terutama terjadi pada pekerja penuh dan setengah pengangguran, ketika jumlah pekerja paruh waktu menurun.

Dampak bagi kelompok rentan dan ekonomi Jakarta

Lulusan SMA dan SMK tetap menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi dalam lapisan pendidikan. Menurut Kadarmanto, pada Februari 2026 tingkat pengangguran terbuka tamatan SMA umum mencapai 7,58 persen, menandakan tekanan paling besar masih terkonsentrasi pada tenaga kerja berpendidikan menengah.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pergerakan pasar kerja belum sepenuhnya menghasilkan kepastian kerja yang merata. Bagi Jakarta, penurunan pengangguran yang terbatas di tengah bertambahnya angkatan kerja berarti tantangan penyerapan tenaga kerja formal dan peningkatan kualitas pekerjaan masih menjadi faktor penting bagi stabilitas sosial dan daya beli rumah tangga.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang data BPS DKI Jakarta terkait pengangguran Jakarta pada Februari 2026, kami mencatat TPT masih berada di 6,03% atau sekitar 333.860 orang dari total 5,53 juta angkatan kerja. Ulasan tersebut juga menyoroti bahwa lulusan SMK dan SMA mencatat tingkat pengangguran tertinggi, serta adanya ketimpangan gender di mana TPT laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.