DPK perbankan Indonesia menguat pada kuartal I-2026, likuiditas industri tetap longgar
Pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan Indonesia semakin kuat pada awal 2026, menandakan ruang likuiditas industri masih memadai untuk menopang penyaluran kredit. Pada Maret 2026, kenaikan simpanan ditopang oleh seluruh komponen utama, dengan giro mencatat laju pertumbuhan tertinggi dibanding tabungan dan deposito.
Sorotan
- DPK perbankan Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp 9.658,5 triliun, tumbuh 10,7% yoy, lebih tinggi dari 9,2% Februari 2026.
- Bank Mandiri dan BNI mencatat pertumbuhan DPK dua digit pada kuartal I-2026, masing-masing mencapai Rp 1.675 triliun (21,1% yoy) dan Rp 1.100 triliun (34,3% yoy).
- Likuiditas perbankan tetap longgar didorong inflasi terkendali, pelonggaran moneter, serta pertumbuhan CASA dan strategi penguatan dana murah di bank-bank besar.
Pertumbuhan simpanan menguat pada Maret 2026
Berdasarkan data Bank Indonesia, dana pihak ketiga perbankan pada Maret 2026 mencapai Rp 9.658,5 triliun, tumbuh 10,7% secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan 9,2% pada Februari 2026.Kenaikan tersebut ditopang oleh seluruh komponen DPK. Giro tumbuh 21,2% secara tahunan, tabungan naik 8,4%, dan deposito meningkat 4,4%, seluruhnya lebih cepat dibanding bulan sebelumnya ketika giro tumbuh 17,6%, tabungan 7,7%, dan deposito 3,7%.
Data Otoritas Jasa Keuangan juga menunjukkan tren serupa. Penghimpunan DPK perbankan pada Maret 2026 mencapai Rp 10.231 triliun atau tumbuh 13,55% secara tahunan, naik dari Februari 2026 yang mencatat pertumbuhan 13,18% dengan nominal Rp 10.102 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menilai tren penghimpunan DPK tetap berada dalam jalur positif setelah sebelumnya sempat lebih moderat dalam fase normalisasi. Ia mengatakan struktur DPK perbankan masih terjaga sehat dan seimbang, sehingga industri memiliki ruang yang memadai untuk menjaga likuiditas sekaligus mendukung fungsi intermediasi secara berkelanjutan hingga akhir 2026.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, melihat pertumbuhan DPK pada awal tahun didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi, perbaikan arus kas korporasi, serta belanja pemerintah yang lebih agresif. Menurut dia, dominasi pertumbuhan giro menunjukkan dana masuk bukan semata dipicu suku bunga, tetapi juga oleh pemulihan aktivitas ekonomi riil.
Dampak bagi bank besar dan strategi pendanaan
Myrdal menilai inflasi yang terkendali, stabilitas makroekonomi, pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia, serta stimulus pemerintah ikut menopang likuiditas sistem perbankan. Faktor musiman seperti pencairan THR, masa panen raya, dan percepatan belanja pemerintah pada awal tahun juga membantu pertumbuhan dana masyarakat, sementara ketidakpastian global mendorong nasabah memilih instrumen simpanan yang relatif aman.Untuk sepanjang 2026, ia memproyeksikan pertumbuhan DPK industri perbankan tetap solid di kisaran 11,98%. Ia menilai bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah atau CASA melalui ekosistem payroll, layanan transaksi digital, serta integrasi dengan merchant, e-commerce, dan UMKM, sambil tetap menawarkan deposito yang kompetitif dan memperkuat hubungan dengan nasabah korporasi serta affluent.
Sejumlah bank besar sudah mencatat pertumbuhan DPK dua digit pada kuartal I-2026. Bank Mandiri membukukan DPK bank only Rp 1.675 triliun, naik 21,1% secara tahunan, ditopang CASA Rp 1.201 triliun yang tumbuh 12,7%. BNI juga mencatat DPK Rp 1.100 triliun, melonjak 34,3%, dengan dana murah naik 26,6% menjadi Rp 731,6 triliun.
Di kelompok bank besar lain, pertumbuhan DPK masih berada pada level satu digit. BCA mencatat DPK Rp 1.292 triliun, naik 8,3%, BTN mencapai Rp 422,63 triliun atau tumbuh 9,9%, sedangkan BRI menghimpun Rp 1.555 triliun, meningkat 9,4%, dengan dana murah naik 13,2% menjadi Rp 1.058,6 triliun. Peningkatan CASA di sejumlah bank juga menunjukkan fokus industri pada efisiensi biaya dana dan penguatan struktur likuiditas.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang ekspansi ekosistem Holding Ultra Mikro BRI Group, kami mengulas bagaimana sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM memperluas akses pembiayaan terintegrasi bagi pelaku usaha mikro hingga akhir Maret 2026. Cakupannya tercermin dari jutaan nasabah pinjaman, ratusan juta rekening simpanan mikro, serta penguatan layanan seperti tabungan/deposito emas, asuransi mikro, dan perluasan outlet SenyuM Co-Location yang mendorong literasi serta inklusi keuangan.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto