Saham perbankan Indonesia menguat tidak merata pada sesi I, BBCA memimpin kenaikan

Saham perbankan Indonesia menguat tidak merata pada sesi I, BBCA memimpin kenaikan
Saham bank naik, BBCA unggul

Pergerakan saham perbankan di Bursa Efek Indonesia kembali keluar dari zona merah pada akhir perdagangan sesi I Jumat, 8 Mei 2026, dengan mayoritas bank berkapitalisasi besar berada di area positif. Kenaikan itu terjadi saat IHSG masih melemah 0,08% ke 7.168,46, menunjukkan penguatan sektor bank belum berlangsung seragam di seluruh emiten.

Sorotan

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin penguatan bank besar dengan kenaikan 2,41% ke Rp 6.375, mencapai level tertinggi sepekan di Rp 6.400.
  • PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mencatat kenaikan terbesar di luar kelompok bank besar, melonjak 5,17% ke Rp 4.270 pada sesi I.
  • PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masing-masing turun 2,76% dan 1,41%, sementara IHSG tetap di zona negatif.

Kinerja saham bank pada sesi perdagangan

KONTAN Indonesia melaporkan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan penguatan harian terbesar di kelompok bank besar, naik 2,41% menjadi Rp 6.375. Selama sesi I, saham BBCA sempat menyentuh Rp 6.400, yang menjadi level tertingginya dalam sepekan.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,29% menjadi Rp 4.700 dan mencapai posisi tertinggi dalam sepekan terakhir. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga menguat 1,21% menjadi Rp 3.350, sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bergerak stagnan di Rp 3.980, yang tetap menjadi level tertingginya dalam sepekan.

Di kelompok lain, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mencatat kenaikan signifikan 5,17% menjadi Rp 4.270. Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) hanya naik 0,59% ke Rp 1.710 dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) tidak berubah di Rp 3.440.

Pergerakan yang belum seragam di sektor

Dua bank pelat merah lainnya justru bergerak melemah pada sesi yang sama. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) turun 2,76% menjadi Rp 1.935, sedangkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) terkoreksi 1,41% menjadi Rp 1.400.

Perbedaan arah pergerakan ini menandakan minat pasar terhadap saham perbankan masih selektif, meski mayoritas bank besar sudah kembali ke zona hijau. Kondisi itu juga memperlihatkan bahwa penguatan saham bank belum cukup kuat untuk mengangkat indeks utama pasar, karena IHSG masih bertahan di wilayah negatif hingga akhir sesi I.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan Indonesia pada awal 2026, kami menyoroti menguatnya simpanan yang menjaga likuiditas industri tetap longgar untuk menopang penyaluran kredit. Data Maret 2026 menunjukkan DPK tumbuh lebih cepat, dengan giro menjadi pendorong utama, sementara bank-bank besar memperkuat strategi penghimpunan dana murah (CASA) untuk menekan biaya dana dan menjaga ketahanan pendanaan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.