Pelabuhan Tanjung Priok susun delapan skenario mitigasi risiko untuk jaga rantai pasok
Pelabuhan Tanjung Priok menyusun delapan skenario risiko operasional dalam dokumen Business Continuity Management System untuk mengantisipasi potensi krisis di kawasan pelabuhan. Langkah ini menegaskan peran pelabuhan tersebut sebagai simpul utama logistik nasional yang menangani lebih dari separuh arus peti kemas internasional Indonesia.
Sorotan
- Dokumen BCMS Pelabuhan Tanjung Priok memetakan delapan risiko kritikal, termasuk pandemi, terorisme, dan tumpahan minyak, sebagai dasar mitigasi rantai pasok.
- Joint Exercise Business Continuity Management System dilakukan dengan skenario tabrakan kapal serta pencemaran minyak, melibatkan lebih dari 30 pemangku kepentingan pelabuhan.
- Gangguan operasional berkepanjangan di Tanjung Priok berpotensi mengganggu arus logistik nasional, ekspor-impor, distribusi energi-pangan, serta rantai pasok industri.
Dokumen mitigasi dan uji skenario krisis
Seperti dilaporkan Kompas.com, dokumen BCMS Pelabuhan Tanjung Priok memetakan delapan risiko kritikal, yakni pandemi kesehatan, terorisme, kerusuhan massa, kebakaran besar, tumpahan minyak, kemacetan logistik parah, gangguan kelistrikan, dan bencana alam. Ketua Tim Penyusun BCMS Pelabuhan Tanjung Priok Tedy Herdian mengatakan dokumen itu bersifat dinamis dan terus dikembangkan mengikuti perubahan risiko, kompleksitas operasional pelabuhan, serta tantangan rantai pasok global.Dokumen tersebut disusun bersama oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Pelindo Regional 2, operator terminal, dan pemangku kepentingan pelabuhan lainnya berdasarkan identifikasi risiko kawasan. BCMS itu kemudian diuji melalui Joint Exercise Business Continuity Management System dengan skenario tabrakan kapal akibat engine failure yang memicu pencemaran minyak di kolam pelabuhan.
Simulasi melibatkan lebih dari 30 pemangku kepentingan pelabuhan dan menguji komando kedaruratan, koordinasi lintas terminal, aktivasi command center, pengamanan alur pelayaran, hingga strategi pemulihan operasional pascainsiden.
Dampak terhadap logistik nasional dan industri
Kepala KSOP Utama Tanjung Priok Kapten Heru Susanto menjelaskan sistem keberlangsungan operasional diperlukan karena Tanjung Priok menempati posisi strategis dalam arus logistik nasional. Gangguan operasional berkepanjangan di pelabuhan ini dapat mempengaruhi distribusi logistik nasional, aktivitas ekspor-impor, distribusi energi dan pangan, serta rantai pasok industri.Menurut dia, peran regulator tidak hanya menetapkan aturan, tetapi juga memastikan seluruh ekosistem pelabuhan bergerak dalam satu irama ketika krisis terjadi. Dengan kerangka mitigasi dan latihan terpadu tersebut, otoritas pelabuhan berupaya memperkuat ketahanan operasional kawasan terhadap gangguan yang berpotensi menekan kelancaran perdagangan dan distribusi nasional.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang roadmap pemulihan pascabencana Sumatera hingga 2028, kami membahas pergeseran penanganan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dari fase tanggap darurat menuju transisi dan pemulihan. Kami juga menyoroti fokus pemerintah pada pemulihan layanan dasar dan infrastruktur utama, termasuk dukungan anggaran tambahan, agar aktivitas ekonomi dan layanan publik bisa kembali normal lebih cepat.
- Forex
- Crypto