PT Reasuransi MAIPARK Indonesia mencatat penurunan realisasi pembayaran klaim hingga akhir Maret 2026 di tengah fokus perusahaan pada pengelolaan risiko bencana. Pada periode yang sama, reasuradur tersebut juga membukukan rasio klaim yang rendah, mencerminkan ruang bagi perseroan untuk menjalankan strategi penguatan bisnis sepanjang tahun ini.
Sorotan
- MAIPARK mencatat penurunan pembayaran klaim sebesar 27,75% secara tahunan hingga akhir Maret 2026, dengan asuransi gempa bumi sebagai penyumbang utama.
- Claim ratio MAIPARK berada di level 0,57% pada akhir kuartal I-2026, mencerminkan tingkat klaim yang relatif rendah.
- Sepanjang 2026, MAIPARK memprioritaskan pemodelan ulang risiko, pengembangan asuransi parametrik, dan digitalisasi sistem untuk memperkuat bisnis dan efisiensi operasional.
Kinerja klaim dan fokus lini bisnis
Kepada KONTAN, Presiden Direktur PT Reasuransi MAIPARK Indonesia Kocu Andre Hutagalung mengatakan pembayaran klaim perusahaan hingga akhir Maret 2026 turun 27,75% secara tahunan. Ia tidak merinci nilai nominal klaim tersebut, namun menyebut lini asuransi gempa bumi tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap realisasi pembayaran klaim perusahaan.Selain penurunan pembayaran klaim, MAIPARK mencatat claim ratio yang relatif rendah. Hingga akhir kuartal I-2026, claim ratio perusahaan berada di level 0,57%.
Strategi 2026 untuk keberlanjutan bisnis
Untuk mengoptimalkan keberlanjutan bisnis, MAIPARK menyiapkan sejumlah strategi sepanjang 2026, termasuk pembaruan pemodelan risiko gempa bumi dan banjir. Menurut Kocu, langkah itu dilakukan untuk memastikan struktur tarif asuransi yang ideal dan berkelanjutan bagi industri asuransi nasional.Di samping itu, MAIPARK mengembangkan asuransi parametrik sebagai alternatif solusi perlindungan risiko bencana. Skema ini dinilai mampu menghadirkan proses pencairan klaim yang lebih cepat dan transparan karena berbasis parameter data yang terukur.
MAIPARK juga terus mendorong digitalisasi operasional dan integrasi sistem guna menciptakan tata kelola yang lebih efisien dan transparan. Melalui strategi tersebut, perusahaan berharap dapat memperkuat kapasitas industri dalam menghadapi risiko bencana sekaligus menjaga kinerja bisnis tetap sehat sepanjang 2026.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang kinerja klaim PT Tugu Reasuransi Indonesia pada kuartal I-2026, kami mencatat pembayaran klaim turun menjadi sekitar Rp415 miliar seiring perbaikan loss ratio ke 58,18% sehingga hasil underwriting tetap positif. Artikel itu juga menyoroti fokus strategi 2026 pada penguatan kualitas underwriting, optimalisasi portofolio, serta ekspansi selektif dengan evaluasi risiko dan profitabilitas yang lebih ketat.
Berita Fintech Terbaru
- Forex
- Crypto