LPEM FEB UI dorong BI naikkan suku bunga saat tekanan rupiah menembus Rp17.700 per dolar U.S.
Tekanan terhadap rupiah mendorong munculnya desakan agar Bank Indonesia menempuh pengetatan moneter dalam rapat kebijakan pekan ini. LPEM FEB UI menilai kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis points menjadi 5 persen perlu dipertimbangkan untuk meredam pelemahan kurs yang dinilai kian dipicu faktor eksternal dan struktural domestik.
Sorotan
- LPEM FEB UI merekomendasikan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points menjadi 5 persen pada RDG 19-20 Mei 2026.
- Bank Indonesia telah menggelontorkan lebih dari USD10 miliar cadangan devisa selama empat bulan terakhir untuk menahan gejolak kurs rupiah.
- Nilai tukar rupiah menembus Rp17.700 per dolar U.S., turun dari Rp16.100 per dolar U.S. pada Agustus 2025, memicu kekhawatiran atas efektivitas intervensi valas.
Usulan pengetatan dalam RDG Mei 2026
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia merekomendasikan Bank Indonesia segera menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points menjadi 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19-20 Mei 2026.Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyatakan tekanan terhadap rupiah tidak bisa disepelekan karena mencerminkan eskalasi tekanan yang makin kuat dari sisi eksternal maupun dari persoalan struktural ekonomi domestik. Dalam risetnya yang dikutip Rabu, ia menilai instrumen suku bunga acuan perlu dimanfaatkan untuk membantu meredam pelemahan mata uang.
Menurut kajian tersebut, bank sentral sebenarnya telah mengerahkan berbagai bauran intervensi untuk menjaga rupiah, termasuk optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward, serta pasar Non-Deliverable Forward. Namun, efektivitas langkah-langkah itu dinilai mulai melemah di tengah tekanan yang berlanjut pada nilai tukar.
Dampak pelemahan rupiah bagi stabilitas pasar
Tekanan pada rupiah disebut telah mendorong penggunaan cadangan devisa dalam skala besar. BI tercatat telah menggelontorkan lebih dari USD10 miliar dalam empat bulan terakhir untuk menjaga psikologis pasar dan menahan gejolak kurs.Meski demikian, rupiah tetap berada dalam tren pelemahan jangka panjang sejak Agustus 2025, ketika nilainya masih di kisaran Rp16.100 per dolar U.S. Dengan kurs yang kini telah melampaui Rp17.700 per dolar U.S., rekomendasi kenaikan suku bunga mencerminkan kekhawatiran bahwa instrumen intervensi valas saja tidak lagi cukup untuk menopang stabilitas mata uang dan menjaga kepercayaan pasar.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan rupiah dan desakan pengetatan kebijakan moneter BI, kami membahas seruan agar BI-Rate dinaikkan 25 basis poin menjadi 5,00% setelah kurs menembus kisaran Rp17.700 per dolar AS. Kami menyoroti bahwa penundaan dinilai dapat memperbesar biaya stabilisasi serta meningkatkan risiko inflasi impor, volatilitas pasar obligasi, dan persepsi risiko investor, di tengah faktor eksternal seperti kebijakan The Fed yang cenderung “higher for longer”.
Berita Centralbanks Terbaru
- Forex
- Crypto