IHSG merosot 4,49% pada sesi I saat rupiah melemah dan sentimen MSCI membebani pasar
Tekanan jual meluas di pasar saham Indonesia pada paruh pertama perdagangan Rabu, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan turun ke level 5.889 setelah sempat menyentuh 5.876. Pelemahan ini terjadi di tengah depresiasi rupiah, kekhawatiran atas prospek pasar modal domestik, dan bertambahnya kehati-hatian investor terhadap arah inflasi serta suku bunga.
Sorotan
- IHSG turun 4,49% pada sesi I akibat depresiasi rupiah hingga Rp17.926 per dolar U.S. dan tekanan sentimen MSCI.
- Harga minyak global naik setelah belum tercapai perdamaian U.S.-Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan pelebaran defisit APBN.
- Inflasi Indonesia Mei 2026 sebesar 3,08% yoy masih dalam target BI, namun risiko penaikan BI Rate tetap terbuka akibat penguatan harga minyak dan pelemahan rupiah.
Dampak rupiah dan inflasi terhadap sentimen
Tekanan juga datang dari pasar valuta asing, dengan rupiah terdepresiasi hingga menembus Rp17.926 per dolar U.S. Pelemahan mata uang tersebut dipicu kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta kenaikan inflasi.Phintraco Sekuritas menjelaskan belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara U.S. dan Iran mendorong harga minyak kembali naik setelah sebelumnya sempat terkoreksi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pasar terhadap peningkatan tekanan inflasi global maupun domestik.
Data menunjukkan inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08% secara tahunan. Meski masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5% hingga 3,5%, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan inflasi lebih lanjut jika harga minyak bertahan tinggi dalam periode panjang.
Phintraco Sekuritas menilai potensi kenaikan BI Rate masih terbuka di tengah risiko peningkatan inflasi dan berlanjutnya depresiasi rupiah. Tren kenaikan suku bunga itu berpotensi menjadi sentimen negatif lanjutan bagi pasar saham.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.900 per dolar AS, kami mengulas bagaimana lonjakan harga minyak global, kebutuhan dolar untuk impor energi, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah memperbesar tekanan di pasar valas domestik. Ulasan tersebut juga menyoroti bahwa prospek suku bunga AS yang tetap tinggi dapat menambah volatilitas dan membuat rupiah lebih sensitif terhadap gejolak komoditas, yang kemudian berimbas pada biaya impor dan sektor yang bergantung pada dolar.
Berita Inflation Terbaru
- Forex
- Crypto