Kementan dorong pengembangan ubi jalar untuk perkuat pangan dan ekonomi daerah
Pemerintah memperluas perhatian pada ubi jalar sebagai komoditas pangan strategis yang dinilai mampu menopang ketahanan pangan nasional sekaligus membuka nilai tambah agribisnis daerah. Dalam agenda pengembangan pertanian 2026, komoditas ini juga diposisikan sebagai peluang peningkatan kesejahteraan petani melalui perluasan budidaya, benih unggul, dan dukungan teknologi.
Sorotan
- Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan ubi jalar nasional pada 2026 dengan luas tanam sekitar 70 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 26 ton per hektare.
- Program seluas 295 hektare di Kabupaten Kuningan dijalankan untuk diversifikasi pangan, didukung fasilitas seperti balai pengembangan umbi di Gowa dan percepatan pelepasan varietas unggul hasil riset.
- Tantangan pengembangan terletak pada ketersediaan benih unggul, sehingga kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi menjadi kunci mempercepat pelepasan varietas dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Rencana pengembangan varietas dan perluasan budidaya
Seperti disampaikan Kementerian Pertanian Indonesia, dukungan terhadap pengembangan ubi jalar ditegaskan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam rapat yang dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas serta Rektor Universitas Padjadjaran pada Senin, 15 Juni 2026. Dalam forum itu, Kementan menyatakan siap mendukung pengembangan varietas unggul hingga perluasan budidaya ubi jalar di berbagai daerah.Sudaryono menyatakan ubi jalar memiliki prospek besar karena dapat tumbuh di beragam kondisi lahan, termasuk lahan marjinal. Ia menyebut luas tanam ubi jalar nasional pada 2026 mencapai sekitar 70 ribu hektare dengan produktivitas rata-rata 26 ton per hektare, dan pemerintah terus mendorong peningkatan hasil melalui dukungan teknologi, benih unggul, serta pendampingan petani.
Kementan juga menyiapkan fasilitas pendukung untuk komoditas umbi-umbian, termasuk balai pengembangan umbi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang menjadi salah satu pusat pengembangan dan penyediaan teknologi budidaya. Selain itu, kementerian telah memiliki sejumlah varietas ubi jalar yang terdaftar dan dilepas resmi, serta mendorong perguruan tinggi mempercepat pelepasan varietas hasil riset agar dapat dimanfaatkan lebih luas di lapangan.
Sudaryono mengatakan Kementan telah menyiapkan program pengembangan ubi jalar seluas 295 hektare di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Program itu menjadi bagian dari upaya diversifikasi pangan nasional, meski fokus utama pengembangan komoditas umbi saat ini masih berada pada singkong untuk mendukung program bioenergi nasional.
Dampak bagi petani dan ketahanan pangan nasional
Tantangan utama pengembangan ubi jalar, menurut Sudaryono, bukan berada pada ketersediaan lahan, sumber daya manusia, atau teknologi budidaya, melainkan pada penyediaan benih atau bibit unggul yang memadai. Karena itu, percepatan pelepasan varietas hasil penelitian menjadi langkah penting agar petani mendapatkan akses pada varietas yang produktif dan sesuai dengan kebutuhan pasar.Ia juga menegaskan berbagai program pembangunan pertanian pemerintah, termasuk program cetak sawah di Merauke, ditujukan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan kesejahteraan masyarakat tanpa mengambil alih kepemilikan lahan warga. Dengan dukungan infrastruktur dan irigasi, lahan yang sebelumnya tidak produktif dinilai dapat ditanami dua hingga tiga kali dalam setahun sehingga menambah pendapatan petani.
Kementan tetap optimistis pengembangan ubi jalar dapat menjadi model pembangunan pertanian berbasis inovasi yang memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing komoditas lokal Indonesia di pasar global. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lain diharapkan mempercepat lahirnya varietas unggul serta pengembangan kawasan budidaya ubi jalar secara berkelanjutan.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang penyaluran KUR BRI pada 2026, kami mencatat kredit yang sudah tersalurkan mencapai Rp 84,36 triliun hingga akhir Mei, dengan mayoritas dialokasikan ke sektor produktif. Porsi terbesar mengalir ke pertanian, yang menyerap Rp 35,91 triliun, sejalan dengan upaya mendorong produktivitas petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto