Ashutosh Sureka

Demo mahasiswa kaitkan MBG dengan tekanan biaya hidup dan ekonomi nasional

Demo mahasiswa kaitkan MBG dengan tekanan biaya hidup dan ekonomi nasional
Mahasiswa kritik MBG & ekonomi

Program Makan Bergizi Gratis, atau MBG, terus muncul dalam gelombang demonstrasi mahasiswa di sejumlah daerah sebagai bagian dari kritik yang lebih luas terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Penyandingan isu ini dengan harga BBM, kebutuhan pokok, dan pelemahan rupiah menunjukkan bahwa mahasiswa menempatkan MBG dalam konteks beban hidup masyarakat secara keseluruhan.

Sorotan

  • Aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia di Bundaran HI menuntut penghentian MBG bersamaan dengan isu harga kebutuhan pokok dan BBM.
  • Demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah menyandingkan evaluasi MBG dengan tekanan biaya hidup dan pelemahan rupiah terhadap dollar U.S.
  • MBG kini diasosiasikan dengan kebijakan ekonomi pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan menjadi sorotan publik saat demonstrasi terkait tekanan ekonomi.

MBG masuk dalam rangkaian tuntutan ekonomi

Seperti dilaporkan Kompas.com, aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia di Bundaran HI, Jakarta Pusat, memasukkan penghentian program MBG sebagai salah satu tuntutan utama bersama isu harga kebutuhan pokok dan BBM. Pola serupa juga muncul dalam demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus di Surabaya, yang selain menyoroti evaluasi MBG juga meminta pemerintah memperbaiki kondisi perekonomian nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar U.S.

Fenomena itu menunjukkan bahwa tuntutan terhadap MBG tidak berdiri sendiri dalam aksi mahasiswa belakangan ini. Di berbagai daerah, program tersebut disandingkan dengan persoalan yang dinilai lebih langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk kenaikan biaya hidup dan tekanan ekonomi nasional.

Makna politik dan dampaknya bagi persepsi publik

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai penyandingan MBG dengan isu ekonomi menandakan adanya pesan yang ingin disampaikan mahasiswa kepada pemerintah. Menurut dia, mahasiswa tidak melihat MBG sebagai program yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah yang perlu dibaca dalam konteks kondisi ekonomi masyarakat secara menyeluruh.

Adi mengatakan mahasiswa ingin menyoroti persoalan yang paling dekat dengan kehidupan publik, seperti nilai tukar rupiah, kenaikan BBM Pertamax, biaya hidup, dan kondisi ekonomi. Ia juga menilai langkah itu menjadi bentuk evaluasi terhadap pemerintah, sekaligus upaya menunjukkan bahwa perhatian publik tidak hanya tertuju pada satu program, tetapi pada kemampuan pemerintah menangani persoalan inti ekonomi.

Menurut Adi, MBG menjadi salah satu program yang paling mudah diidentifikasi publik dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, ketika program tersebut masuk ke daftar tuntutan demonstrasi, sorotan publik ikut terarah pada kebijakan itu dan pada kaitannya dengan tekanan ekonomi yang lebih luas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penataan ulang program Makan Bergizi Gratis (MBG), kami membahas langkah pemerintah menekan beban fiskal melalui efisiensi anggaran, termasuk moratorium pendirian SPPG baru dan peninjauan ulang insentif. Kami juga mengulas pergeseran fokus penerima manfaat ke kelompok rentan dan wilayah 3T, seiring pemangkasan pagu MBG 2026 serta pengetatan tata kelola setelah jumlah SPPG melampaui target.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.