AAUI sebut klaim asuransi properti naik 34,7% hingga Maret 2026
Tekanan pada lini asuransi properti meningkat ketika klaim industri mencapai Rp 2,64 triliun per Maret 2026, naik 34,7% secara tahunan. Kenaikan ini terjadi di tengah pertumbuhan premi 6,5% menjadi Rp 8,31 triliun, sehingga rasio tekanan klaim menjadi sorotan bagi pelaku asuransi umum.
Sorotan
- Klaim asuransi properti naik 34,7% hingga Maret 2026, terutama akibat penutupan banyak korporasi besar penyumbang premi di lini tersebut.
- Premi asuransi properti tumbuh 6,5% secara tahunan menjadi Rp 8,31 triliun per Maret 2026, meski tekanan klaim meningkat tajam.
- Bencana alam di Sumatra akhir tahun lalu tidak berdampak signifikan pada industri asuransi properti secara luas, hanya mempengaruhi satu atau dua perusahaan.
Pendorong kenaikan klaim properti
KONTAN Indonesia melaporkan, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, AAUI, menilai lonjakan klaim asuransi properti terutama terkait penutupan banyak korporasi yang sebelumnya menjadi penyumbang premi besar pada lini tersebut.Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan penurunan signifikan jumlah korporasi, termasuk pabrik tekstil dan produsen plat besi, mendorong pengembalian mesin dan berimbas pada kenaikan klaim. Menurut dia, banyak perusahaan kesulitan menjual produk mereka, dengan faktor utama yang disebut adalah penutupan Selat Hormuz.
Budi berharap perjanjian damai konflik di Timur Tengah segera terealisasi agar Selat Hormuz dapat dibuka penuh kembali. Ia memperkirakan pemulihan dapat memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan jika perjanjian segera ditandatangani, karena area tersebut masih memerlukan pembersihan ranjau, sementara dua sampai tiga bulan ke depan dinilai krusial bagi normalisasi ekspor Indonesia.
Dampak bencana dan konteks industri
Budi juga menegaskan bencana alam di Sumatra pada akhir tahun lalu tidak memberi dampak signifikan terhadap lini asuransi properti secara industri. Menurut dia, ada beberapa premi besar di lini korporasi yang terkait, tetapi kondisinya masih dapat dikendalikan sehingga kontribusinya terhadap lonjakan klaim tidak besar.Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, dan Analisis Heri Supriyadi mengatakan dampak bencana lebih mungkin dirasakan perusahaan asuransi yang memiliki eksposur pada asuransi kredit di wilayah terdampak, seperti Aceh dan Padang. Ia menyebut kenaikan klaim properti dalam kasus itu kemungkinan hanya mengenai satu atau dua perusahaan asuransi, bukan seluruh industri secara luas.
Data AAUI menunjukkan premi lini asuransi properti masih tumbuh 6,5% secara tahunan menjadi Rp 8,31 triliun per Maret 2026. Kondisi ini menunjukkan bisnis properti tetap mencatat pertumbuhan premi, tetapi tekanan klaim meningkat lebih cepat di tengah pelemahan sektor korporasi.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja premi dan klaim industri asuransi umum Indonesia pada kuartal I-2026, kami menyoroti bahwa pendapatan premi masih tumbuh, dengan kontribusi terbesar dari lini properti dan kendaraan bermotor. Namun, total klaim meningkat jauh lebih cepat sehingga pelaku industri didorong memperkuat permodalan, kualitas underwriting, dan pengelolaan risiko untuk menjaga profitabilitas.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto