Polri manfaatkan pemeriksaan Frans Antoni untuk memburu jaringan narkotika Fredy Pratama
Pemeriksaan terhadap Frans Antoni memperluas upaya Polri menelusuri arus dana dan struktur operasional sindikat narkotika yang diduga dikendalikan Fredy Pratama di Asia Tenggara. Langkah ini juga menjadi bagian dari pengejaran terhadap Fredy, yang masih berstatus Red Notice dan diduga mengendalikan peredaran narkoba lintas negara dari luar Indonesia.
Sorotan
- Polri memanfaatkan pemeriksaan Frans Antoni untuk menelusuri aliran dana dan memburu jaringan narkotika Fredy Pratama, yang menggunakan money changer ilegal dan cryptocurrency.
- Frans Antoni diduga mengangkut uang hasil kejahatan 168 kali dari Indonesia ke Thailand selama 2017-2023, mendukung operasi sindikat narkotika regional.
- Sindikat Fredy Pratama mengendalikan peredaran narkoba 100-500 kilogram per bulan sejak 2009 di Indonesia, dengan operasi lintas negara Asia Tenggara.
Penelusuran dana dan pengejaran buronan
Seperti dilaporkan Kompas.com, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri memanfaatkan pemeriksaan Frans Antoni untuk memetakan jaringan keuangan sindikat Fredy Pratama sekaligus mendukung pengejaran terhadap buronan tersebut. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso mengatakan penyidik mendalami seluruh aliran dana dan jaringan pendukung yang terkait dengan operasi narkotika itu.Frans baru dipulangkan ke Indonesia setelah diamankan tim gabungan Direktorat Narkoba Bareskrim Polri dan Divisi Hubungan Internasional Polri di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Kamis, 18 Juni 2026. Polri menyebut Frans sebagai salah satu orang kepercayaan Fredy yang berperan sebagai pengendali keuangan, pengendali lapangan, sekaligus pengendali operasional sindikat.
Dalam penyidikan, Frans diduga membantu mengelola hasil bisnis narkoba melalui jaringan money changer ilegal di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kelompoknya juga diduga menggunakan cryptocurrency untuk mempermudah penyeberangan uang ilegal.
Dampak regional dan cakupan operasi sindikat
Polri menduga Frans mengangkut uang hasil kejahatan dari Indonesia ke Thailand sepanjang 2017 hingga 2023 dengan frekuensi rata-rata dua hingga tiga kali setiap bulan, atau sekitar 168 perjalanan. Berdasarkan data perlintasan imigrasi, Fredy telah meninggalkan Indonesia sejak 2014 dan diduga mengendalikan jaringan peredaran narkoba dari Malaysia, Thailand, serta sejumlah negara lain di Asia Tenggara.Menurut Eko, sindikat yang dipimpin Fredy telah beroperasi sejak 2009 dan mengendalikan peredaran narkotika di berbagai kota besar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Jaringan itu juga diduga mampu menyelundupkan narkoba dari Malaysia dan Thailand ke Indonesia melalui jalur laut, darat, dan jalur ilegal lain dengan volume 100 hingga 500 kilogram per bulan.
Frans telah ditetapkan sebagai daftar pencarian orang sejak 12 November 2023 dalam perkara tindak pidana pencucian uang yang berkaitan dengan jaringan Fredy Pratama. Pada 2024, Polri juga meminta bantuan timbal balik kepada Thailand untuk membantu penangkapan Fredy, setelah sebelumnya aparat Indonesia menangkap buronan Thailand Chaowalit Thongduang alias Pang Na-Node alias Sulaiman di Bali.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang penangkapan Frans Antoni di Kuala Lumpur, kami menyoroti bagaimana penangkapan tersebut memperluas upaya Polri membongkar aliran dana jaringan Fredy Pratama yang beroperasi lintas negara. Artikel itu juga membahas dugaan peran Frans sebagai pengendali keuangan dan operasional, termasuk pemanfaatan money changer ilegal serta aset kripto, dan catatan pengangkutan uang tunai sekitar 168 kali dari Indonesia ke Thailand pada 2017–2023.
Berita Law Enforcement Terbaru
- Forex
- Crypto