Ashutosh Sureka

Perbankan Indonesia diproyeksikan mempertahankan LDR di atas 90% pada semester II-2026

Perbankan Indonesia diproyeksikan mempertahankan LDR di atas 90% pada semester II-2026
Perbankan tahan LDR tinggi

Tekanan likuiditas mulai membayangi industri perbankan Indonesia pada paruh kedua 2026 ketika pertumbuhan kredit tetap kuat di tengah penghimpunan dana yang tidak mudah. Kondisi ini berpotensi menekan margin dan profitabilitas bank, terutama bagi pemain kecil yang harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik dana.

Sorotan

  • OJK mencatat LDR perbankan Indonesia naik menjadi 86,88% per April 2026 dan diproyeksikan tetap di atas 90% hingga akhir 2026.
  • Tekanan net interest margin dan peningkatan biaya dana mulai terasa pada kuartal II-2026, membebani profitabilitas terutama untuk bank dengan pendapatan bunga dominan.
  • Bank besar lebih mampu menyerap penurunan margin berkat basis dana kuat, sedangkan bank kecil harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi akibat ketatnya likuiditas.

Proyeksi likuiditas dan sumber pendanaan

KONTAN Indonesia melaporkan Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan rasio kredit terhadap pendanaan, atau loan to deposit ratio, industri perbankan tetap berada di atas 90% hingga akhir 2026. Per April 2026, Otoritas Jasa Keuangan mencatat LDR perbankan di level 86,88%, naik dari 84,64% pada bulan sebelumnya.

Menurut Banjaran, upaya menurunkan LDR tidak mudah karena bank menghadapi dua pilihan yang sama-sama berat, yakni memperbesar penghimpunan dana atau menahan laju penyaluran kredit dan pembiayaan. Dari sisi kredit, ruang untuk memperlambat pertumbuhan dinilai terbatas karena meski permintaan modal kerja korporasi mulai melandai, permintaan dari sektor konsumen dan usaha mikro, kecil, dan menengah masih cukup kuat.

Di sisi pendanaan, ia menilai sumber likuiditas baru masih terbatas seiring meredanya momentum kenaikan harga komoditas global. Banjaran melihat salah satu penopang likuiditas pada semester II dapat berasal dari aksi korporasi di sektor keuangan, perbankan, dan pasar modal, terutama yang terkait penghimpunan dana dalam dolar U.S.

Ia juga menyoroti potensi masuknya aliran dana asing jangka pendek dan peningkatan penerimaan devisa ekspor sebagai faktor yang dapat membantu memperbaiki likuiditas perbankan sekaligus menopang nilai tukar rupiah.

Tekanan margin dan dampak bagi kelompok bank

Secara umum, Banjaran menilai tekanan terhadap industri perbankan mulai terlihat sejak kuartal II-2026. Salah satu indikatornya adalah net interest margin yang mulai tergerus akibat kenaikan biaya dana, ketika bank tetap harus menawarkan bunga kredit yang kompetitif di tengah biaya penghimpunan dana yang meningkat.

Kondisi itu pada akhirnya menekan profitabilitas industri. Dalam situasi tersebut, bank yang memiliki basis transaksi kuat dan sumber pendapatan berbasis komisi dinilai lebih diuntungkan dibandingkan bank yang masih bergantung pada pendapatan bunga atau margin pembiayaan.

Tekanan likuiditas ini, menurutnya, dirasakan oleh seluruh kelompok bank, baik besar, menengah, maupun kecil, meski tantangannya berbeda. Bank-bank besar masih memiliki kemampuan menyerap penurunan margin berkat basis dana dan skala usaha yang lebih kuat, sedangkan bank kecil menghadapi tekanan lebih besar karena harus bersaing menghimpun dana dengan menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Banjaran menambahkan banyak bank berada dalam posisi short likuiditas di pasar uang antarbank, yang menunjukkan ketatnya kondisi pendanaan di dalam sistem perbankan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan BI Rate ke 5,75% sepanjang 2026, kami mengulas dampaknya terhadap biaya dana, margin (NIM), dan penyaluran kredit perbankan. Kami juga menyoroti bahwa bank BUMN dinilai lebih rentan terhadap tekanan NIM karena struktur pendanaan yang lebih sensitif suku bunga, sementara bank dengan likuiditas lebih longgar berpeluang memanfaatkan kenaikan imbal hasil instrumen pasar uang.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.