Bank Mandiri dirut beli 50.000 saham BMRI

Bank Mandiri dirut beli 50.000 saham BMRI
Dirut Mandiri beli saham BMRI

Transaksi saham oleh manajemen kembali menjadi sorotan ketika Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk menambah kepemilikan di tengah tekanan harga saham perseroan. Pembelian itu dilakukan untuk tujuan investasi pada pertengahan Juni 2026, saat saham BMRI masih mencatat penurunan tajam secara year to date.

Sorotan

  • Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, membeli 50.000 saham BMRI pada 15 Juni 2026 seharga Rp 4.470 per saham, senilai Rp 223,5 juta.
  • Kepemilikan saham Riduan naik menjadi 14.597.800 saham (0,0156%), sementara saham BMRI pada 24 Juni 2026 turun 3,64% ke Rp 3.970 dan year to date melemah 22,16%.
  • Hingga Mei 2026, laba bersih Bank Mandiri mencapai Rp 23,31 triliun (+18,64% yoy), didukung pertumbuhan kredit 20,56% yoy dan DPK naik 22% yoy.

Rincian transaksi dan posisi kepemilikan

Keterbukaan informasi BEI yang dikutip Kontan menyebut Riduan membeli 50.000 saham BMRI pada 15 Juni 2026 dengan harga Rp 4.470 per saham. Nilai transaksi itu diperkirakan mencapai Rp 223,5 juta.

Setelah pembelian tersebut, kepemilikan saham Riduan di Bank Mandiri naik dari 14.547.800 saham menjadi 14.597.800 saham. Porsi kepemilikannya tercatat tetap di level 0,0156% dari total saham yang diterbitkan BMRI.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 24 Juni 2026, saham BMRI turun 3,64% ke Rp 3.970 per saham. Di awal perdagangan, saham ini sempat menguat ke level Rp 4.130 per saham, namun secara year to date masih melemah 22,16%.

Kinerja bank dan implikasi bagi pasar

Hingga Mei 2026, Bank Mandiri membukukan laba bersih bank only sebesar Rp 23,31 triliun, naik 18,64% secara tahunan. Pertumbuhan ini berlanjut setelah pada bulan sebelumnya laba bersih juga tumbuh 18,85% yoy.

Kenaikan laba antara lain ditopang pendapatan bunga bersih yang naik 9,97% yoy menjadi Rp 34,85 triliun. Dari sisi intermediasi, kredit tumbuh 20,56% yoy menjadi Rp 1.578,94 triliun, sementara total aset meningkat 19,96% yoy menjadi Rp 2.306,26 triliun.

Dana pihak ketiga tumbuh 22% yoy menjadi Rp 1.716,31 triliun, meski pertumbuhannya masih ditopang dana mahal. Giro naik 14,32% yoy menjadi Rp 663,76 triliun, tabungan tumbuh 9,2% yoy menjadi Rp 558,75 triliun, sedangkan deposito melonjak 57,01% yoy menjadi Rp 493,79 triliun.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang keputusan MSCI mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai emerging market dalam Market Classification Review 2026, kami mencatat bahwa kekhawatiran penurunan ke frontier market mereda dan sentimen investor membaik. Namun, MSCI masih menyoroti isu transparansi kepemilikan saham serta praktik coordinated trading yang tetap dipantau hingga peninjauan berikutnya pada November 2026.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.