Pengendara Jakarta batasi pembelian Pertamax setelah kenaikan harga

Pengendara Jakarta batasi pembelian Pertamax setelah kenaikan harga
Pengendara hemat Pertamax

Kenaikan harga Pertamax mulai mengubah pola belanja bahan bakar pengendara di Jakarta, dengan sebagian konsumen tidak lagi mengisi tangki penuh saat datang ke SPBU. Perubahan ini menunjukkan tekanan biaya rumah tangga yang kian terasa, meski pengguna kendaraan masih mempertahankan BBM RON 92 demi menjaga performa mesin.

Sorotan

  • Pengendara di Jakarta kini membatasi pembelian Pertamax secara nominal setelah harga BBM nonsubsidi naik, beralih ke pengisian sesuai anggaran harian atau mingguan.
  • Farhan membeli Pertamax senilai Rp 200.000 per pengisian, turun dari kebiasaan isi penuh, sebagai respons lonjakan harga yang berdampak pada belanja rumah tangga.
  • Ahmad Sofian menyebut biaya isi penuh BBM untuk tiga hari naik dari sekitar Rp 400.000 menjadi Rp 700.000, menunjukkan tekanan berat pada pengeluaran mobilitas.

Perubahan pola isi BBM di SPBU Jakarta

Seperti dilaporkan Kompas.com, sejumlah pengendara di Jakarta kini menetapkan batas nominal pembelian Pertamax setelah harga BBM nonsubsidi itu naik. Mereka beralih dari kebiasaan mengisi penuh tangki menjadi pembelian sesuai anggaran harian atau mingguan.

Farhan, 29 tahun, mengatakan kini hanya membeli Pertamax senilai Rp 200.000 setiap kali datang ke SPBU di kawasan Cikini Raya, Jakarta Pusat, pada Kamis 25/6/2026. Sebelumnya ia biasa meminta pengisian penuh, namun sekarang memilih menyebut nominal agar pengeluaran tidak melampaui anggaran.

Ia menilai lonjakan harga Pertamax memaksanya menata ulang belanja rumah tangga, termasuk membagi kebutuhan bahan bakar dengan pengeluaran dapur. Meski mengurangi volume pembelian, ia tetap memakai RON 92 karena khawatir perubahan jenis BBM dapat memengaruhi kondisi mesin kendaraan.

Tekanan biaya bagi pengguna kendaraan

Keluhan serupa disampaikan Ahmad Sofian, 36 tahun, pemilik Toyota CR-V, yang menyebut biaya pengisian penuh tangki naik tajam dalam beberapa hari terakhir. Jika sebelumnya ia mengeluarkan sekitar Rp 400.000 untuk penggunaan selama tiga hari, kini kebutuhan biaya mencapai sekitar Rp 700.000 untuk periode yang sama.

Kenaikan tersebut memperlihatkan besarnya dampak harga BBM nonsubsidi terhadap pengeluaran mobilitas pengguna kendaraan pribadi. Namun, seperti Farhan, Sofian juga belum berencana beralih ke BBM lain karena menilai risiko terhadap kebersihan mesin dan potensi biaya perbaikan bisa lebih besar.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax sempat kami soroti sebagai pemicu perubahan kebiasaan pengendara di Jakarta dalam mengisi BBM. Dalam artikel tersebut, sejumlah pengguna mulai membatasi nominal pembelian—misalnya Rp 200.000 per kunjungan—karena biaya isi penuh naik dari sekitar Rp 400.000 menjadi Rp 700.000, meski banyak yang tetap bertahan pada RON 92 demi menjaga kondisi mesin dan menghindari biaya perawatan tambahan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.