Pedagang ATK Pasar Asemka hadapi penurunan penjualan jelang tahun ajaran baru

Pedagang ATK Pasar Asemka hadapi penurunan penjualan jelang tahun ajaran baru
Penjualan ATK menurun

Menjelang tahun ajaran baru, pedagang alat tulis kantor di Pasar Asemka, Jakarta Barat, tidak sepenuhnya menikmati lonjakan permintaan yang biasanya menjadi pendorong omzet musiman. Sejumlah penjual menyatakan penjualan melemah meski arus pembeli tetap ramai, di tengah kenaikan harga barang dari distributor.

Sorotan

  • Penjualan ATK di Pasar Asemka turun sekitar 20 persen jelang tahun ajaran baru dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
  • Harga produk ATK naik dari sekitar Rp 40.000 menjadi Rp 45.000, Rp 50.000, hingga Rp 60.000 akibat pasokan barang yang tidak lancar.
  • Omzet harian tertinggi pedagang Asemka turun dari Rp 50 juta menjadi sekitar Rp 30 juta, diduga akibat bantuan perlengkapan sekolah kepada siswa.

Tekanan penjualan dan kenaikan harga

Seperti dilaporkan Kompas.com, salah satu pedagang ATK di Pasar Asemka, Noval, mengatakan penjualannya turun sekitar 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ia menyebut pelemahan itu terjadi pada musim yang biasanya menjadi masa penjualan tertinggi bagi pedagang perlengkapan sekolah.

Menurut Noval, tekanan tidak hanya datang dari sisi permintaan, tetapi juga dari harga pasokan yang terus naik. Ia mengatakan penyesuaian harga dari distributor terjadi hampir setiap pekan, dengan sejumlah produk yang sebelumnya dijual sekitar Rp 40.000 naik menjadi Rp 45.000, Rp 50.000, hingga Rp 60.000.

Ia menduga kenaikan harga dipengaruhi pasokan barang dari pusat distribusi yang tidak selancar biasanya. Meski begitu, menurutnya, kenaikan harga menjelang musim masuk sekolah hampir selalu terjadi setiap tahun.

Dampak pada omzet pedagang Asemka

Penurunan penjualan itu ikut menekan omzet harian toko. Jika pada musim tahun ajaran baru tahun lalu pendapatan harian bisa mencapai Rp 30 juta hingga Rp 50 juta, kini omzet tertinggi yang dicapai hanya sekitar Rp 30 juta per hari.

Noval menduga penurunan permintaan berkaitan dengan bantuan perlengkapan sekolah yang sudah diterima sebagian siswa, sehingga kebutuhan membeli buku, pulpen, dan alat tulis lain berkurang. Ia juga menepis anggapan bahwa maraknya belanja daring menjadi penyebab utama berkurangnya pembeli di kawasan tersebut.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang tekanan margin perbankan di Indonesia, kami membahas bagaimana profitabilitas bank tergerus karena kenaikan biaya operasional yang melampaui penurunan biaya dana. Kami juga menyoroti respons yang umum ditempuh bank—meningkatkan porsi dana murah (CASA), memperketat efisiensi, dan lebih selektif menyalurkan kredit—untuk menjaga stabilitas margin di tengah persaingan likuiditas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.