Margin perbankan Indonesia tetap tertekan hingga akhir 2026
Tekanan terhadap profitabilitas bank di Indonesia berlanjut seiring kenaikan biaya operasional yang lebih tinggi daripada penurunan biaya dana. Kondisi ini mendorong bank lebih berhati-hati dalam menaikkan bunga kredit karena berisiko menambah tekanan kualitas pinjaman.
Sorotan
- Margin keuntungan industri perbankan Indonesia turun menjadi 2,19% pada April 2026 dari 2,21% sebelumnya karena kenaikan biaya operasional melebihi penurunan biaya dana.
- Bank disarankan meningkatkan porsi CASA, efisiensi operasional, dan selektivitas kredit untuk mempertahankan stabilitas margin di tengah kenaikan biaya dana dan persaingan likuiditas.
- CASA BCA per Maret 2026 naik 11,2% yoy mencapai Rp1.089 triliun, menopang net interest margin di 5,3% versus 4,8% pada kuartal I 2025.
Tekanan margin dan respons perbankan
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Bank Indonesia mencatat margin keuntungan industri perbankan turun menjadi 2,19% pada April 2026 dari 2,21% pada bulan sebelumnya. Dalam laporan Asesmen Transmisi Suku Bunga, BI menjelaskan penurunan itu terjadi pada mayoritas kelompok bank, termasuk bank BUMN, bank pembangunan daerah, dan kantor cabang bank asing, terutama karena kenaikan biaya operasional melampaui penurunan biaya dana.Vice President LPPI Trioksa Siahaan menilai tekanan terhadap margin perbankan masih berlanjut hingga akhir tahun. Menurut dia, bank akan berhati-hati untuk menaikkan bunga kredit karena kenaikan biaya dana tidak mudah diteruskan ke debitur, sementara kenaikan suku bunga kredit juga dapat meningkatkan risiko kredit.
Untuk menahan tekanan tersebut, perbankan perlu memperbesar porsi dana murah atau CASA, menjalankan efisiensi operasional, serta lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Langkah-langkah ini dinilai penting untuk menjaga biaya dana tetap terkendali di tengah persaingan likuiditas dan tekanan margin.
Strategi BCA menjaga biaya dana
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan perseroan terus mencermati perkembangan suku bunga acuan, kondisi makroekonomi, potensi risiko, serta likuiditas perbankan. Menurut dia, faktor-faktor tersebut mempengaruhi pergerakan suku bunga, baik di sisi kredit maupun pendanaan.Hera menyatakan cost of fund BCA relatif terjaga berkat keunggulan bisnis perbankan transaksi. Per Maret 2026, CASA BCA mencapai Rp1.089 triliun, naik 11,2% secara tahunan, sehingga porsinya mendominasi sekitar 85,2% dari total dana pihak ketiga.
Mengutip materi paparan kinerja BCA kuartal I 2026, net interest margin bank ini berada di level 5,3%, naik dari 4,8% pada kuartal I tahun sebelumnya. Kinerja itu menunjukkan basis dana murah masih menjadi penopang utama stabilitas biaya dana di tengah tekanan margin industri.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang penguatan saham bank-bank berkapitalisasi besar, kami menyoroti kenaikan harga BBRI, BBCA, BBNI, dan BMRI yang ditopang valuasi yang dinilai menarik setelah koreksi serta akumulasi selektif investor. Kami juga mencatat sentimen pasar membaik seiring ekspektasi penurunan suku bunga global, selective foreign buying, dan peluang rerating sektor perbankan bila stabilitas makro serta likuiditas membaik pada semester II-2026.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto