OJK nilai plafon kredit belum ditarik jadi pendorong pertumbuhan kredit perbankan

OJK nilai plafon kredit belum ditarik jadi pendorong pertumbuhan kredit perbankan
Plafon kredit dorong kredit

Di tengah pertumbuhan kredit perbankan yang tetap kuat hingga Mei 2026, Otoritas Jasa Keuangan melihat tingginya fasilitas kredit yang belum ditarik debitur sebagai ruang ekspansi pembiayaan ke depan. Nilai undisbursed loan perbankan mencapai Rp 2.575 triliun, yang dinilai mencerminkan potensi realisasi kredit seiring kebutuhan investasi dan operasional dunia usaha.

Sorotan

  • Nilai fasilitas kredit yang belum ditarik debitur hingga Mei 2026 mencapai Rp 2.575 triliun, mencerminkan potensi pertumbuhan kredit perbankan ke depan.
  • Hingga Mei 2026, kredit perbankan tumbuh 11,51% year-on-year menjadi Rp 8.918 triliun, naik dari pertumbuhan 9,98% pada April 2026.
  • Kredit investasi tumbuh 21,95% yoy, kredit modal kerja 8,09%, kredit konsumsi 5,89%, dan bank-bank BUMN mencatat pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 15,98%.

Potensi penarikan kredit pada periode mendatang

KONTAN melaporkan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan nilai fasilitas kredit yang belum ditarik debitur hingga Mei 2026 mencapai Rp 2.575 triliun. Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK pada Selasa, 7 Juli 2026, ia mengatakan angka itu tidak mencerminkan lemahnya permintaan kredit, melainkan masih besarnya potensi pemanfaatan kredit sesuai kebutuhan dan jadwal ekspansi masing-masing debitur.

OJK menilai plafon kredit yang belum dicairkan itu berpeluang direalisasikan sejalan dengan berjalannya proyek investasi maupun kebutuhan operasional pelaku usaha. Lembaga itu juga tetap optimistis kondisi ekonomi, kepercayaan pelaku usaha, serta pasar yang dinilai positif dan stabil dapat menopang pertumbuhan kredit pada periode berikutnya.

Kinerja kredit dan penopang pertumbuhan

Hingga Mei 2026, kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan menjadi Rp 8.918 triliun. Laju ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 9,98% secara tahunan pada April 2026, menandakan penyaluran kredit masih bergerak naik.

Berdasarkan penggunaan, kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 21,95% secara tahunan. Kredit modal kerja tumbuh 8,09%, sedangkan kredit konsumsi naik 5,89% dan menjadi segmen dengan laju pertumbuhan paling rendah.

Dari sisi debitur, kredit korporasi masih menjadi motor utama dengan pertumbuhan 18,39% secara tahunan. Sementara itu, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah mulai membaik dengan pertumbuhan 0,6%, naik dari 0,16% pada April 2026, sedangkan berdasarkan kelompok bank, bank-bank BUMN mencatat pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 15,98%.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan paylater (BNPL) perbankan, kami menyoroti bahwa baki debet paylater naik tajam menjadi Rp 30,1 triliun per Mei 2026, jauh melampaui laju kredit konsumsi. Kami juga mencatat tekanan daya beli mendorong paylater sebagai sumber likuiditas jangka pendek, sehingga bank perlu memperketat manajemen risiko dan kualitas penyaluran kredit di tengah ekspansi produk digital.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.