Posisi utang luar negeri Indonesia mencapai USD444,4 miliar pada Mei 2026, dengan pertumbuhan tahunan 2,1 persen, sedikit lebih tinggi dari April 2026. Kenaikan ini terjadi ketika utang publik dari pemerintah dan bank sentral masih tumbuh, sementara kontraksi utang luar negeri swasta menjadi lebih rendah.
Sorotan
- Utang luar negeri pemerintah Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar USD217,3 miliar, relatif stabil dibanding April 2026 menurut Bank Indonesia.
- Kenaikan utang luar negeri Bank Indonesia didorong meningkatnya kepemilikan non-residen pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia seiring operasi moneter pro-market.
- Sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial menerima 22,0 persen dari total utang luar negeri pemerintah, diikuti administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 20,6 persen.
Perkembangan utang publik pada Mei 2026
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Bank Indonesia menyatakan kenaikan utang luar negeri tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan utang publik, baik pemerintah maupun bank sentral. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan kondisi itu terjadi di tengah kontraksi pertumbuhan utang luar negeri swasta yang lebih rendah.Posisi utang luar negeri pemerintah pada Mei 2026 tercatat sebesar USD217,3 miliar dan dinilai relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2026. Menurut Bank Indonesia, perkembangan utang pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara internasional, di tengah pembayaran neto pinjaman luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.
Bank Indonesia menilai aliran dana ke instrumen tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga. Pemerintah juga tetap berkomitmen memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu serta mengelola utang luar negeri secara pruden, terukur, dan fleksibel.
Dampak terhadap pembiayaan dan stabilitas
Bank Indonesia menyebut utang luar negeri pemerintah tetap menjadi salah satu instrumen pembiayaan APBN yang dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel. Penggunaannya diarahkan untuk mendukung program prioritas, menjaga keberlanjutan fiskal, dan memperkuat perekonomian nasional.Berdasarkan sektor ekonomi, pemanfaatan utang pemerintah antara lain mengalir ke sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,0 persen dari total utang luar negeri pemerintah, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 20,6 persen, jasa pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.
Sementara itu, kenaikan utang luar negeri Bank Indonesia didorong oleh meningkatnya kepemilikan non-residen pada instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Kondisi ini berjalan seiring operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan pembiayaan hijau perbankan, kami menyoroti bagaimana bank-bank besar meningkatkan portofolio pendanaan untuk energi terbarukan, kendaraan listrik, dan proyek ramah lingkungan. Kami juga mencatat kenaikan portofolio hijau di sejumlah bank, yang menegaskan pembiayaan berkelanjutan makin penting sebagai pendorong investasi menuju transisi energi dan ekonomi rendah karbon.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto