Pengeluaran Gen Z Jakarta soroti tekanan biaya hidup dan ketergantungan PayLater

Pengeluaran Gen Z Jakarta soroti tekanan biaya hidup dan ketergantungan PayLater
Gen Z tertekan biaya hidup

Pola belanja Generasi Z di DKI Jakarta pada 2025 menunjukkan beban pengeluaran bulanan yang besar, dengan kebutuhan nonmakanan mengambil porsi lebih dominan daripada pangan. Kondisi ini muncul ketika sebagian kelompok usia muda masih menghadapi pengangguran tinggi dan pendapatan yang cenderung belum stabil.

Sorotan

  • Rata-rata pengeluaran Gen Z Jakarta pada 2025 sebesar Rp 11.969.830 per bulan, dengan proporsi 60 persen untuk nonmakanan dan 40 persen makanan.
  • Tingkat Pengangguran Terbuka usia 15-29 tahun di Jakarta mencapai 13,65 persen pada Agustus 2025, jauh di atas usia 30-59 tahun sebesar 3,25 persen.
  • Indeks inklusi keuangan usia 18-25 tahun pada 2025 mencapai 89,96 persen, namun indeks literasi keuangan tertinggal di 73,22 persen, mendorong ketergantungan pada PayLater.

Data pengeluaran dan tekanan pasar kerja

Seperti dilaporkan Kompas.com, data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta menunjukkan rata-rata pengeluaran Gen Z di Jakarta pada 2025 mencapai Rp 11.969.830 per bulan. Dari jumlah itu, pengeluaran nonmakanan mencapai Rp 7.142.427, sedangkan pengeluaran makanan sebesar Rp 4.827.403.

Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan rata-rata pengeluaran tertinggi berada di Jakarta Selatan sebesar Rp 15.168.533 per bulan, sementara yang terendah berada di Kepulauan Seribu sebesar Rp 6.082.246 per bulan. Komponen nonmakanan yang mendominasi mencakup biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, serta pembelian barang penunjang gaya hidup dan pekerjaan.

Data BPS juga menunjukkan kelompok usia muda masih menghadapi tantangan di pasar tenaga kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka kelompok usia 15-29 tahun pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen, jauh di atas kelompok usia 30-59 tahun sebesar 3,25 persen, sementara TPT perempuan muda sebesar 13,90 persen sedikit lebih tinggi daripada laki-laki 13,46 persen.

PayLater jadi penyangga arus kas

Dalam penilaian Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira, kenaikan penggunaan buy now pay later, atau BNPL, di kalangan anak muda tidak berasal dari satu faktor tunggal. Ia menilai ada tiga lapis pendorong yang saling terkait, yakni desain produk yang mudah diakses, kondisi ekonomi pengguna, serta kesenjangan antara akses layanan keuangan dan tingkat literasi keuangan.

Menurut Adrian, kemudahan akses PayLater di halaman pembayaran mengurangi hambatan psikologis saat konsumen berbelanja, karena barang bisa diterima lebih dulu sementara pembayaran dilakukan kemudian. Dari sudut ekonomi perilaku, kondisi ini terkait dengan berkurangnya pain of paying dan munculnya present bias, yaitu kecenderungan lebih mengutamakan kepuasan saat ini dibanding kewajiban pada masa mendatang.

Ia menambahkan banyak anak muda baru memasuki dunia kerja dengan pendapatan yang belum tinggi atau masih berfluktuasi, padahal mereka tetap harus menanggung biaya transportasi, tempat tinggal, kebutuhan kerja, bahkan membantu keluarga. Dalam konteks itu, PayLater dipakai untuk menjembatani kebutuhan hari ini dengan pendapatan yang baru diterima di masa depan.

Adrian juga menyoroti hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang menunjukkan indeks inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen, sedangkan indeks literasi keuangan baru 66,46 persen. Pada kelompok usia 18-25 tahun, indeks inklusi keuangan mencapai 89,96 persen, sementara literasi keuangan sebesar 73,22 persen, menandakan akses ke layanan keuangan tumbuh lebih cepat daripada pemahaman penggunaannya.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang meningkatnya penggunaan PayLater/BNPL di kalangan anak muda, kami mengulas bagaimana layanan ini makin dipakai sebagai penyangga kebutuhan kuliah dan konsumsi harian ketika arus kas belum stabil. Kami juga menyoroti pola pembelian yang umum (misalnya perangkat belajar dan kebutuhan personal) serta risiko utang konsumtif, termasuk potensi denda dan catatan kredit buruk bila disiplin pembayaran lemah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.