Penggunaan paylater meningkat, risiko utang dan arus kas membayangi pengguna muda

Penggunaan paylater meningkat, risiko utang dan arus kas membayangi pengguna muda
Paylater: Praktis atau Berisiko?

Layanan buy now, pay later atau paylater semakin luas digunakan di kalangan anak muda seiring akses keuangan digital yang kian mudah. Kemudahan transaksi ini membantu memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi juga meningkatkan risiko perilaku konsumtif dan tekanan pada arus kas pribadi.

Sorotan

  • Penggunaan paylater di kalangan anak muda Indonesia meningkat karena kemudahan akses dan tren media sosial, kini bergeser ke konsumsi gaya hidup.
  • Risiko utama paylater yaitu gangguan arus kas bulanan dan meningkatnya beban cicilan, mengurangi ruang untuk dana darurat atau investasi.
  • Pembayaran paylater yang tidak sehat, seperti gali lubang tutup lubang dan keterlambatan, berdampak negatif pada skor kredit serta akses ke pembiayaan lain seperti KPR.

Tren penggunaan dan pergeseran fungsi paylater

Seperti dilaporkan Kompas.com, perencana keuangan Rista Zwestika menilai paylater pada dasarnya adalah alat pembayaran, bukan sumber tambahan penghasilan. Ia mengatakan manfaat maupun risikonya sangat bergantung pada cara pengguna memanfaatkannya, dalam wawancara pada Jumat, 17/7/2026.

Menurut Rista, penggunaan paylater di kalangan anak muda terus meningkat seiring makin mudahnya akses terhadap layanan keuangan digital. Pada tahap awal, fasilitas ini banyak dipakai untuk kebutuhan mendesak seperti perangkat kerja, tiket perjalanan, biaya kesehatan, dan kebutuhan pendidikan.

Namun, dalam praktiknya, penggunaan paylater mulai bergeser ke pemenuhan gaya hidup. Kemudahan transaksi membuat proses membeli terasa lebih ringan karena pengguna tidak langsung mengeluarkan uang saat bertransaksi, sementara kewajiban membayar baru muncul beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian. Rista menilai kondisi ini kerap memicu perilaku konsumtif, yang juga diperkuat oleh budaya media sosial dan dorongan mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal.

Dampak pada arus kas dan kesehatan finansial

Rista mengatakan risiko terbesar penggunaan paylater bukan hanya munculnya utang, tetapi juga terganggunya kemampuan seseorang mengelola arus kas. Banyak pengguna akhirnya menerima gaji bulanan ketika sebagian besar pendapatannya sudah dialokasikan untuk membayar cicilan transaksi sebelumnya.

Kondisi itu mempersempit ruang untuk membangun dana darurat maupun investasi karena penghasilan habis untuk memenuhi kewajiban konsumtif. Risiko lain yang kerap muncul adalah praktik gali lubang tutup lubang, ketika fasilitas paylater baru digunakan untuk melunasi tagihan sebelumnya, ditambah potensi denda dan biaya tambahan bila pembayaran terlambat.

Ia menambahkan, riwayat pembayaran yang buruk juga dapat memengaruhi skor kredit dan menyulitkan pengajuan pembiayaan lain, seperti KPR atau pinjaman usaha. Indikator penggunaan yang mulai tidak sehat antara lain pengguna lupa total cicilan bulanan, memakai paylater hanya karena nominal cicilan terlihat kecil, gaji habis di awal bulan untuk membayar tagihan, serta muncul rasa cemas setiap kali tanggal jatuh tempo mendekat.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang meningkatnya penggunaan PayLater/BNPL di kalangan anak muda, kami membahas bagaimana layanan ini makin sering dipakai untuk menopang kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran nonmakanan saat pendapatan belum stabil. Kami juga mengulas faktor pendorongnya, mulai dari kemudahan akses di halaman pembayaran hingga kesenjangan literasi keuangan, serta risiko utang konsumtif yang bisa berujung denda dan catatan kredit buruk bila disiplin pembayaran lemah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.