Pembiayaan BPD tertekan saat kredit perbankan nasional terus tumbuh
Sejumlah bank pembangunan daerah menghadapi perlambatan pembiayaan di tengah ekspansi kredit perbankan nasional yang masih menguat hingga Agustus 2026. Tekanan likuiditas dan penurunan jumlah pemohon kredit menjadi faktor yang menahan kinerja, meski beberapa bank tetap melihat ruang pertumbuhan dari UMKM dan sektor produktif.
Sorotan
- Per Agustus 2026, kredit perbankan nasional tumbuh 13,65% menjadi Rp 9.178 triliun, namun sejumlah BPD seperti Bank Nagari belum ikut mengalami pertumbuhan.
- Bank Nagari membukukan total pembiayaan Rp 25,34 triliun per Agustus 2026, turun 0,22% secara tahunan, didominasi kredit UMKM dan pembiayaan syariah.
- Bank BPD DIY mencatat pembiayaan turun 5,53% menjadi Rp 10,97 triliun, dengan pertumbuhan sektor konstruksi Rp 539 miliar dan penurunan jumlah pemohon kredit 13%.
Kinerja pembiayaan BPD dan faktor penekan
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan mencatat kredit perbankan nasional tumbuh 13,65% secara tahunan menjadi Rp 9.178 triliun per Agustus 2026, tetapi tren itu belum tercermin pada sejumlah BPD.PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat, Bank Nagari, membukukan total pembiayaan Rp 25,34 triliun per Agustus 2026, turun 0,22% dibandingkan setahun sebelumnya. Dari jumlah itu, kredit mencapai Rp 20,19 triliun dan pembiayaan syariah Rp 5,15 triliun.
Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra mengatakan bank masih optimistis hingga akhir tahun ini. Ia menyebut pembiayaan masih didominasi sektor UMKM, terutama pertanian, industri kecil, dan perdagangan, sementara peluang juga terlihat dari pariwisata, kuliner, ekonomi kreatif, dan ekonomi syariah.
Menurut Gusti, strategi bank saat ini adalah menyeimbangkan ketatnya likuiditas dengan tata kelola melalui pendekatan funding follow the lending. Ia juga mengatakan prospek 2027 dinilai lebih baik dibandingkan tahun ini, seiring penyesuaian kapasitas daerah dan kondisi bank.
Prospek sektor produktif hingga akhir tahun
PT Bank BPD DIY juga mencatat tekanan pada pembiayaan, dengan total penyaluran Rp 10,97 triliun per Agustus 2026, turun 5,53% secara tahunan dari Rp 11,59 triliun. Rinciannya terdiri dari kredit Rp 9,53 triliun dan pembiayaan syariah Rp 1,43 triliun.Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY R. Agus Trimurjanto mengatakan per September terdapat sektor yang masih tumbuh, yakni konstruksi sebesar Rp 539 miliar dan real estate Rp 29 miliar. Ia menambahkan jumlah pemohon kredit turun 13%, tetapi total nominal pengajuan naik 7%.
Agus memproyeksikan penyaluran kredit hingga akhir tahun tetap tumbuh dengan dukungan sektor produktif, khususnya UMKM. Untuk mendorong ekspansi, bank memperluas penetrasi melalui Kredit Usaha Rakyat, KUR, serta Kredit Program Perumahan, KPP.
Perkembangan ini menunjukkan pertumbuhan kredit nasional belum merata di tingkat daerah. Bagi BPD, kemampuan menjaga likuiditas sambil mengarahkan pembiayaan ke sektor produktif menjadi faktor penting untuk memperbaiki tren penyaluran pada sisa 2026 dan memasuki 2027.
Penyaluran KUR Bank Nagari pada 2026 menjadi sorotan dalam liputan kami sebelumnya, dengan realisasi Rp 1,18 triliun hingga September atau 78,76% dari pagu Rp 1,5 triliun. Artikel itu menekankan dominasi sektor pertanian sebagai penopang utama sekaligus sumber risiko NPL KUR, serta langkah bank mempercepat penyerapan sisa pagu sambil memperketat pemantauan, penagihan, dan restrukturisasi debitur yang masih prospektif.
Berita Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto